“Berarti dia ada kebocoran dan ini relevan dengan penjelasan pengemudi terdengar bunyi mendesis. Kemudian dia juga mencoba memindahkan gigi dari lima ke tiga, gagal, karena pedal koplingnya pasti akan terasa keras di injak,” jelas Wildan.
Wildan menuturkan, pada saat kejadian sopir mengaku rem tangan tidak berfungsi. Menurutnya, hal ini sangat mungkin terjadi karena mekanisme air over hydraulic dan rem tangan berfungsi menghentikan kendaraan yang berhenti dan bukan pada saat berjalan.
“Rem hand break pada air over hydraulic break bukan untuk menghentikan kendaraan saat jalan, dia hanya untuk rem parkir,” jelas Wildan.
Wildan menuturkan, indikasi kebocoran angin juga dibuktikan dengan memeriksa di titik yang tidak tersentuh pengemudi. Saat memeriksa, pihaknya mendengar bunyi mendesis dari solenoid valve sehingga bisa disimpulkan bahwa truk ini menggunakan rem tambahan. Agar dapat melihat jelas kebocoran, pihaknya juga mengucuri air sabun pada bagian yang terdengar suara mendesis.
Menurut Wildan, komponen klakson tambahan tidak terbuat dari karet untuk pelindungnya sehingga mudah getas karena suhu. Sementara kekuatan berkurang drastis ketika getas. Di sisi lain, solenoid terus didorong tenaga pneumatic yang besar dan membuat shield sobek.
Menurutnya, kebocoran angin di truk Pertamina tergolong parah. Karena, pengisian tabung angin membutuhkan waktu 14 menit 79 detik. Sedangkan waktu ideal pengisian rem angin hanya butuh waktu 4-6 menit.
Seandainya solenoid dilepas, kata Wildan, pengisian tabung angin butuh waktu enam menit. Kemudian, saat rem diuji, KNKT mendapati indikator permasalahan rem di dasborard pengemudi tidak menyala.