JAKARTA - Kasus kebocoran data sepekan terakhir jadi isu hangat publik Indonesia. Tragedi ini, bahkan menyangkut perusahaan plat merah dan jumlah data yang bocor mencapai jutaan.
Lantas sudah berapa kali dan perusahaan mana saja yang datanya bocor? Berikut ini adalah kompilasi dugaan kebocoran data di Indonesia sepekan terakhir.
1. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)
Kebocoran data pertama kali dialami oleh perusahaan plat merah PLN. Dilaporkan bahwa ada lebih dari 17 juta data pelanggan yang bocor dan dijual ke forum hacker breached.to.
Data dibagikan oleh akun dengan nama Loliyta. Adapun data yang bocor mencakup ID pelanggan, nama pelanggan, tipe energi, KWH, alamat, nomor meteran, tipe meteran, serta nama unit UPI.
PLN sendiri sudah angkat bicara menanggapi kasus ini dan dikatakan bahwa data tersebut merupakan replikasi data pelanggan yang bersifat umum dan tidak spesifik.
Menurut PLN, data itu diambil dari aplikasi dashboard data pelanggan untuk keperluan data analitik, bukan merupakan data riil transaksi aktual pelanggan dan tidak update, sehingga diperkirakan tidak berdampak besar bagi pelanggan.
PLN menyatakan telah dan terus menerapkan keamanan berlapis bersama BSSN untuk tindakan pengamanan yang sangat ketat, dengan tujuan memperkuat dan melindungi data-data pelanggan.
2. Data 21,7 Ribu Lebih Perusahaan Swasta Bocor
Data dari 21,7 ribu lebih perusahaan di Indonesia ternyata ikut dijual peretas (hacker) di darkweb, selain 17 juta lebih data pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Pantauan Okezone, informasi ini turut diunggah ke Twitter oleh akun @nuicemedia pada hari ini, Jumat (19/8/2022), dan menyatakan terjadi pelanggaran data lagi.
"Oh betapa menyenangkannya melihat pelanggaran data lagi. Itu termasuk PLN, Microsoft, McKinsey, PwC, Huawei, China Railway, Huawei Tech Investment, Prudential, dan lain-lain," tweet @nuicemedia.
Penjual data 21,7 ribu lebih perusahaan Indonesia, termasuk cabang asing, diunggah oleh pengguna dengan nickname toshikana pada 15 Agustus 2022.
"347GB dokumen rahasia dari 21,7 ribu perusahaan Indonesia + perusahaan asing (cabang)," demikian judul penjualan data di darkweb tersebut.
"Untuk mempermudah, kami memisahkan perusahaan ini menjadi dua kategori folder: besar dan standar. Folder besar berisi perusahaan yang memiliki pendapatan di atas 50 juta dolar, folder standar berisi perusahaan yang memiliki pendapatan di bawah 50 juta dolar. Ada 177 folder perusahaan besar dan 21.540 folder perusahaan standar," kata toshikana.