Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tindakan Konkret Dunia Diperlukan Mendesak untuk Hindari Kepunahan Massal

Tangguh Yudha , Jurnalis-Selasa, 19 Juli 2022 |14:04 WIB
Tindakan Konkret Dunia Diperlukan Mendesak untuk Hindari Kepunahan Massal
Tindakan konkreyt dunia diperlukan mendesak untuk hindari kepunahan massal (Foto: AFP)
A
A
A

JAKARTA - Survei keanekaragaman hayati global menemukan ada banyak spesies yang terancam punah daripada yang diperkirakan sebelumnya. Tim peneliti pun menyimpulkan bahwa diperlukan tindakan konkret dunia untuk menghindari kepunahan massal.

"Hilangnya keanekaragaman hayati adalah salah satu tantangan terbesar kita di dunia, mungkin lebih penting daripada perubahan iklim," kata Profesor Johannes Knops, seorang peneliti di Universitas Xi'an Jiaotong-Liverpool.

"Masalah perubahan iklim dapat diperbaiki dengan menghentikan lebih banyak emisi karbon dioksida ke atmosfer. Jika Anda kehilangan suatu spesies, itu akan hilang selamanya,” jelasnya.

Profesor Knops sendiri adalah salah satu dari lebih dari 60 ahli yang telah ikut menulis studi global utama tentang hilangnya keanekaragaman hayati, yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Ecology and the Environment.

Ini adalah salah satu studi pertama yang menyatukan beragam data geografis dan demografis dari ribuan pakar keanekaragaman hayati internasional untuk mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dan perbedaan pendapat ahli di bidang keanekaragaman hayati.

Lewat studi ini, perspektif dari tiap-tiap ahli berkontribusi pada penilaian komprehensif kehilangan keanekaragaman hayati dan faktor paling berpengaruh yang mempengaruhi ekosistem dunia.

Ada konsensus yang luar biasa bahwa hilangnya keanekaragaman hayati global kemungkinan akan membatasi fungsi dan kontribusi alam bagi manusia.

Seperti dilansir dari EurekAlert, Selasa (19/7/2022), temuan menunjukkan bahwa lebih banyak spesies mungkin terancam daripada yang diperkirakan sebelumnya. Para ahli memperkirakan sejak tahun 1500, 30% spesies telah terancam punah atau didorong punah.

Jika tren saat ini berlanjut, ini bisa meningkat menjadi 37% pada tahun 2100. Namun, dengan upaya konservasi yang cepat dan ekstensif, ini dapat diturunkan menjadi 25%.

Studi ini juga melaporkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap hilangnya keanekaragaman hayati adalah perubahan iklim, polusi, serta perubahan dan eksploitasi penggunaan lahan dan laut.

“Hilangnya keanekaragaman hayati terjadi di banyak tempat yang berbeda, dan ada kesenjangan dalam pemahaman kita bersama tentang hal itu. Kolaborasi ini dapat membantu kami mencapai konsensus tentang di mana melakukan upaya untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, ” kata Profesor Knops.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement