Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Suhu Antartika dan Arktik Alami Peningkatan Ekstrem yang Aneh Secara Bersamaan

Ahmad Muhajir , Jurnalis-Minggu, 20 Maret 2022 |17:10 WIB
Suhu Antartika dan Arktik Alami Peningkatan Ekstrem yang Aneh Secara Bersamaan
Suhu Antartika dan Arktik alami peningkatan ekstrem yang aneh secara bersamaan (Foto: Nature)
A
A
A

JAKARTA - Dua Kutub Bumi sedang mengalami panas ekstrem yang aneh secara bersamaan. Suhu Antartika menghangat hingga mencapai lebih 40 derajat Celcius dan Arktik lebih dari 30 derajat Celcius.

Dilansir dari NBCNews, Minggu (20/3/2022), suhu stasiun cuaca di Antartika dilaporkan telah memecahkan rekor pada hari Jumat (18/3) saat wilayah itu mendekati musim gugur.

Stasiun Concordia setinggi 3.234 meter di Antartika itu, berada pada suhu -12,2 derajat Celcius, yaitu sekitar 70 derajat lebih hangat dari rata-rata.

Sedangkan, stasiun Vostok di Arktik mencapai -17,7 derajat Celcius, mengalahkan rekor sepanjang masa sekitar 15 derajat Celcius, menurut tweet dari pelacak cuaca ekstrem Maximiliano Herrera.

Ini mengejutkan para pejabat di Pusat Data Salju dan Es Nasional di Boulder, Colorado, karena mereka memperhatikan Kutub Utara di mana suhunya 50 derajat lebih hangat dari rata-rata.

Lalu, disebutkan bahwa suhu daerah di sekitar Kutub Utara mendekati titik leleh, yaitu benar-benar tidak biasa untuk pertengahan Maret, kata ilmuwan Walt Meier.

“Mereka punya musim yang berlawanan. Anda tidak akan melihat utara dan selatan (kutub) keduanya mencair pada saat yang sama,” kata Meier kepada The Associated Press.

“Ini jelas merupakan kejadian yang tidak biasa. Ini cukup menakjubkan," tambah Meier.

"Wow. Saya belum pernah melihat yang seperti ini di Antartika,” tambah ilmuwan es Universitas Colorado, Ted Scambos.

"Bukan pertanda baik ketika Anda melihat hal semacam itu terjadi," ungkap ahli meteorologi University of Wisconsin, Matthew Lazzara.

Lazzara memantau suhu di Dome C-ii Antartika Timur dan mencatat -10 derajat Celcius pada hari Jumat, di mana normalnya adalah -43 derajat Celcius.

“Itu suhu yang seharusnya Anda lihat di bulan Januari, bukan Maret. Januari adalah musim panas di sana. Itu dramatis,” tandasnya.

Baik Lazzara dan Meier, keduanya berpendapat apa yang terjadi di Antartika mungkin hanya peristiwa cuaca acak dan bukan tanda perubahan iklim.

Namun, jika itu terjadi lagi atau berulang kali, maka itu mungkin sesuatu yang perlu dikhawatirkan dan bagian dari pemanasan global, menurut mereka.

(Ahmad Muhajir)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement