RUPANYA para arkeolog menemukan DNA purba pada fosil seorang wanita muda yang terkubur 7.200 tahun lalu di pulau Sulawesi, Indonesia.
Ini menjadi sebuah penemuan baru yang mengubah teori yang sebelumnya diketahui tentang migrasi manusia purba.
Fosil milik seorang remaja berjuluk Bessé ditemukan di goa Leang Panninge di pulau Sulawesi, Indonesia. Penggalian awal dilakukan pada tahun 2015.

Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature itu diyakini sebagai pertama kalinya DNA manusia purba ditemukan di Wallacea, rantai besar pulau dan atol di lautan antara daratan Asia dan Australia.
Temuan DNA kemudian diekstraksi dari bagian petrous tulang temporal Bessé, yang menampung telinga bagian dalam.
Prof Adam Brumm dari Universitas Griffith, yang ikut memimpin penelitian menjelaskan, DNA utuh adalah penemuan langka.
“Daerah tropis yang lembap sangat tak kenal ampun terhadap pelestarian DNA pada tulang dan gigi manusia purba,” kata Brumm, dikutip dari The Guardian, Selasa (12/10/2021).
“Hanya ada satu atau dua kerangka pra-neolitik yang telah menghasilkan DNA purba di seluruh daratan Asia Tenggara."
“Di tempat lain di dunia – di garis lintang utara Eropa, di Amerika – analisis DNA kuno benar-benar merevolusi pemahaman kita tentang kisah manusia purba: keragaman genetik manusia purba, pergerakan populasi, sejarah demografis.”
Para peneliti menggambarkan Bessé sebagai "fosil genetik". Pengurutan genetik menunjukkan dia memiliki sejarah leluhur yang unik yang tidak dimiliki oleh siapa pun manusia yang hidup hari ini.
Sekitar setengah dari susunan genetik Bessé mirip dengan penduduk asli Australia saat ini dan orang-orang dari New Guinea dan pulau-pulau Pasifik Barat.
“Nenek moyangnya akan menjadi bagian dari awal pergerakan manusia purba dari daratan Asia melalui pulau-pulau Wallacean menuju apa yang sekarang kita sebut Sahul, yang merupakan gabungan daratan zaman es Australia dan Nugini,” jelas Brumm.