Selain itu, pada Jumat, 10 November 1916, juga terjadi pada pukul 00.00.34 Waktu Saudi atau 04.00.34 WIB. Ketinggiannya 89,99 derajat, dengan jarak 388.249,15 km dari Bumi.
Menurut prediksi LAPAN, MTBB akan kembali terjadi pada Kamis, 21 Januari 2038, pukul 00.17.16 Waktu Saudi atau 04.17.16 WIB. Ketinggiannya 89,96 derajat, dengan jarak 373.630,99 km dari Bumi.
Setelah itu, juga terjadi lagi pada Minggu, 21 Januari 2057, pukul 00.36.45 Waktu Saudi atau 04.36.45 WIB. Ketinggiannya 89,99 derajat, dengan jarak 394.513,57 km dari Bumi.
Di Indonesia, fenomena MTBB hari ini tidak bisa digunakan untuk meluruskan arah kiblat bagi sebagian provinsi di Maluku, Papua, dan Papua Barat, mengingat posisi Bulan yang sudah lebih dulu terbenam.
Sementara di Pulau Halmahera, Pulau Rote, Pulau Timor, Pulau Buru, Pulau Seram bagian barat, Kepulauan Sula bagian timur, dan Kepulauan Lembata, Bulan dan Matahari akan bersama-sama berada di atas ufuk ketika MTBB di Ka'bah, atau disebut juga sebagai selenelion.
(Amril Amarullah (Okezone))