"Kami dapat memprediksi bahwa cahaya es yang terdeteksi pada malam hari ini dapat memberikan informasi tambahan tentang komposisi permukaan Europa. Komposisi yang bervariasi itu dapat memberi informasi tentang apakah Europa memiliki kondisi yang cocok untuk kehidupan," kata penulis utama penelitian ini, Dr Murthy Gudipati, dari Jet Propulsion Laboratory NASA, sebagaimana dikutip dari IFL Science, Selasa (10/11/2020).
Baca juga: Jupiter Lebih Besar 11 Kali Lipat Dibandingkan Bumi
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa es iradiasi yang dilapisi garam dapat bersinar. Tim menemukan bahwa emisi terkuat berada pada 525 nanometer, panjang gelombang cahaya hijau. Namun, intensitas dan warna pancarannya tergantung pada komposisi molekul yang ditemukan dalam es.
Cahaya tersebut tidak dapat dilihat oleh teleskop Bumi. Pesawat ruang angkasa Clipper Europa NASA diharapkan melakukan penerbangan jarak dekat berulang kali ke Europa. Kamera bidang lebarnya diharapkan dapat menangkap cahaya bahan kimia yang berbeda saat terbang 50 kilometer dari permukaannya pada malam hari.
(Hantoro)