JAKARTA - Presiden Ketiga Indonesia, BJ Habibie memiliki segudang prestasi di bidang teknologi, terutama penerbangan. Nama Habibie tak hanya harum di Indonesia saja, bahkan sampai ke luar negeri. Pria penerima gelar Doktor Ingenieur ini pernah bekerja di salah satu perusahaan penerbangan yang ada di Hamburg, Jerman.
Keterlibatannya dalam dunia teknologi menjadikan alumnus Universitas Teknologi Rhein Westfalen Aachen, Jerman ini dikenal sebagai Bapak Teknologi. Berikut beberapa karya Habibie di bidang teknologi penerbangan:

Baca Juga: OKEZONE STORY: Mengenal BJ Habibie, Bapak Jenius dan Tokoh Teknologi yang Go International
1. Membuat Pesawat Pertama Indonesia
Indonesia mampu menciptakan pesawat terbang sendiri. Hal tersebut juga tidak lepas dari jasa Habibie. Indonesia berhasil membuat pesawat yang diberi nama N-250 Gatotkaca, yang melakukan penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995.

Pesawat N-250 merupakan pesawat sipil regional yang dirancang oleh IPTN atau yang sekarang dikenal dengan PT Dirgantara Indonesia, PT DI, Indonesia Aerospac. Penggunaan ‘N’ sendiri memiliki arti yakni Nusantara.
Hal tersebut menunjukkan bahwa desain, produksi, serta perhitungannya dilakukan di Indonesia bahkan Nurtanio.
2. Penemu Teori Crack Propagation
Habibie memang dikenal sebagai 'Mr Crack karena keahliannya menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, para ahli dirgantara mengenal apa yang disebut Teori Habibie, Faktor Habibie, Fungsi Habibie.
Sebelum titik crack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantisipasi kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (SF). Caranya, meningkatkan kekuatan bahan konstruksi jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya.

Akibatnya, material yang diperlukan lebih berat. Untuk pesawat terbang, material aluminium dikombinasikan dengan baja. Namun setelah titik crack bisa dihitung maka derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.
Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen dari bobot sebelumnya. Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25 persen setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat.
Baca Juga: Ini Wilayah Indonesia yang Terkena Hari Tanpa Bayangan
3. Karyanya Dibeli NASA
Habibie juga berhasil membuat prototipe DO-31, yang merupakan pesawat baling-baling tetap pertama yang mampu tinggal landas dan mendarat secara vertikal, yang dikembangkan HFB bersama industri Donier.
Badan Penerbangan dan Luar Angkasa Amerika Serikat (NASA) pun membeli pesawat rancangan Habibie. Hal tersebut pun membuat Habibie dilirik Messerschmitt Boelkow Blohm Gmbh (MBB), yakni sebuah industri pesawat terbesar yang bermarkas di Hamburg.

Karier Habibie di MBB terus meningkat, jabatan Vice President/Direktur Teknologi MBB didapatkannya tahun 1974. Habibie orang merupakan satu-satunya di luar kebangsaan Jerman yang mampu menduduki posisi kedua tertinggi itu.
Baca Juga: Belum Kondusif, Layanan Internet 6 Kabupaten di Papua Belum Dibuka
Baca Juga: Qualcomm Dukung Chip 5G untuk Ponsel Kelas Menengah
(Ahmad Luthfi)