Sedangkan pada Tim Iris, Muhtadin mengakui sebenarnya robotnya sudah bagus ketika berjalan secara otomatis. Namun ketika pada perlombaan, ternyata sistem jaringan internet atau wi-fi sangatlah padat. Sedangkan perangkat yang dimiliki oleh Tim Iris sama sekali tidak bisa terkoneksi. Sehingga fungsi otomatis tidak bisa berjalan sama sekali.
Hal tersebut menjadikan Tim Iris harus melakukan semuanya secara manual. Walaupun demikian, Tim Iris berhasil meraih dua penghargaan yaitu juara kedua Localization Challenge Robot Soccer dan Passing Challenge Robot Soccer.
Sementara itu, dosen pembimbing Tim Bayucaraka ITS, Atar Fuady Babgei ST MSc mengakui adanya kendalanya teknis pada robot pesawat terbang milik tim ini. Salah satu penyebabnya mengenai kondisi lapangan yang ada. Pasalnya, kondisi permukaan di arena perlombaan lebih halus jika dibandingkan kondisi permukaan yang biasa dilalui. Hal tersebut menjadikan sensor di pesawatnya kurang tepat. “Jadi ketika pesawat sedang terbang menjadi kehilangan keseimbangan,” paparnya.