JAKARTA - Canggihnya teknologi memungkinkan menonton TV tak lagi menggunakan remote. Samsung tengah membuat software TV yang dapat dikendalikan melalui gelombang otak manusia.
Dilansir dari laman CNET, Rabu (28/11/2018) proyek yang bernama Project Pontis tersebut bertujuan membuat televisi Samsung guna mempermudah akses bagi penyandang cacat fisik atau cedera, sehingga pengguna tetap bisa mengatur saluran serta volume televisi mereka tanpa perlu remote, namun dengan memanfaatkan gelombang otak.
Proyek ini tengah dikerjakan oleh Samsung Swiss dengan menggandeng Center of Neuroprosthetics of the Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), sebuah lembaga yang fokus dalam neuroteknologi.
“Kami menciptakan teknologi yang lebih kompleks, yang lebih cerdas, tapi tak ketinggalan jika teknologi ini dibuat untuk berkomunikasi dengan manusia,” ujar Ricardo Chavarriaga, peneliti senior di EPFL saat konferensi para pengembang Samsung awal November lalu.
Langkah pertama dalam membuat perangkat lunak TV ini adalah mengumpulkan sampel bagaimana otak berperilaku ketika pengguna ingin melakukan sesuatu seperti memilih film dengan menggunakan sistem Antarmuka Komputer Otak (BCI).

Baca juga: NASA InSight Tempuh Perjalanan ke Mars 6 Bulan, Ini Videonya
Untuk mengumpulkan gelombang otak, pengguna memakai headset yang memilki 64 sensor dan memiliki eye tracking yang dapat melacak gerakan mata. Headset terhubung ke komputer yang dicerminkan ke TV.
Samsung awalnya berniat mengaplikasikan teknologi ini ke smartphone, namun akhirnya memutuskan untuk mengadopsinya ke televisi yang memiliki layar lebih lebar.
Selain itu, Martin Kathriner, Head of Public Affair Samsung Swiss mengatakan bahwa setiap rumah pasti memiliki televisi. Ia menambahkan bahwa televisi tersebut juga bisa digunakan sebagai smart home hub yang akan lebih menarik untuk teknologi gelombang otak.
Samsung berencana untuk membuat dua teknologi ini 2019 mendatang. Pengujian akan dimulai di salah satu rumah sakit di Swiss.
“Kami akan mulai mengeksplorasi bagaimana situasinya dan memberitahukan teknologi ini kepada para pasien,” papar Kathriner.

Baca juga: Ponsel Terbaik Harga Rp4 Jutaan di 2018
(Ahmad Luthfi)