JAKARTA - Konsep parasut pertama kali dibuat oleh Leonardo da Vinci yang terdiri dari bahan kain ditarik rapat di atas struktur berbentuk piramida yang kaku. Da Vinci tidak pernah membuat perangkatnya, tetapi ia mendapatkan pujian atas konsepnya tersebut.
Dilansir dari Parachute History, tahun 1617 Fauste Veranzio membangun sebuah perangkat yang mirip dengan gambar da Vinci dan ia melompat dari sebuah menara di Venesia. Tahun 1783 seorang balonawan terkenal, Joseph dan Jacques mengembangkan parasut tersebut, sehingga berhasil menurunkan hewan ke tanah dari atap.
Penggunaan parasut pertama dilakukan oleh Jean Pierre Blanchard pada 1785 setelah balon "hotair" miliknya meledak. Ia membuat parasut sutra yang dapat dilipat tersebut dan parasut kembali dipakai oleh Andrew Gamerin yang melompat dari 8.000 kaki, ketinggian yang sangat tinggi untuk saat itu.
Seorang astronom mengamati parasut yang dipakai oleh Andrew, Lalandes. Ia menyarankan agar memotong lubang kecil di dekat puncak kanopi untuk menghambat osilasi. Sehingga modifikasi tersebut dikenal sebagai ventilasi dan memang mengurangi osilasi kanopi.
Selama abad berikutnya, penggunaan parasut hanya terbatas untuk karnaval dan tindakan pemberani saja. Pada akrobat, parasut dilepaskan dari balon udara panas dengan menempelkan bagian atas parasut ke khatulistiwa balon. Opini publik menjadi sangat tidak baik terhadap penggunaan parasut saat Robert Cocking jatuh pada 1837.
Dari Perang Dunia I hingga awal 1930-an, kain sutera menjadi bahan untuk parasut dan tidak berubah dalam struktur. Biasanya diigunakan oleh korps udara militer di Eropa, Rusia, dan Amerika Serikat.
Perkembangan parasut modern yang digunakan pada ketinggian dimulai pada1930-an. Knacke dan Madelung mengembangkan parasut pita di Jerman untuk kapal layar dengan parasut yang melambatkan kecepatan tinggi.