Baca juga: 5 Pernyataan Stephen Hawking yang Kontroversial, Apa Saja?
Akhirnya ia mendapatkan penghargaan yang pertama. Seperti yang dijanjikan, Hawking mendaftar di sekolah pascasarjana di Trinity College, Cambridge pada 1962, belajar di bawah fisikawan Dennis Sciama dan astronom Fred Hoyle yang terkenal.
Dia menjadi tertarik pada studi lubang hitam dan singularitas yang baru lahir, yang keberadaannya telah tersirat oleh teori relativitas umum Einstein.
Baca juga: Stephen Hawking Meninggal Dunia, Warganet Berduka
Saat belajar di Cambridge, Hawking bertemu dengan Wilde, seorang rekan St. Albans yang juga seorang pelajar dalam bahasa modern di Westfield College di London pada saat itu. Sebelum keduanya mulai semakin dekat, Hawking roboh saat ice skating dan tidak bisa bangun.
Ibunya menyuruhnya pergi ke dokter, yang mendiagnosisnya dengan ALS dan memperkirakan bahwa dia berumur dua tahun lagi untuk bisa tetap tinggal.
Bertahun-tahun kemudian, selama sebuah simposium di Cambridge pada ulang tahunnya yang ke-70, Hawking merenungkan betapa dia berjuang untuk tetap termotivasi setelah didiagnosis. Ia begitu keras untuk meraih gelar Ph.D. walau diprediksi mati dalam waktu dua tahun.
"Betapapun sulitnya kehidupan, selalu ada sesuatu yang dapat Anda lakukan dan berhasil. Itu penting agar Anda tidak menyerah begitu saja," kata Stephen Hawking saat usianya masuk 70 tahun.