Sementara itu, sepatu hak tinggi untuk wanita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkembang. Di tahun 1400-an, sepatu hak tinggi yang disebut Chopin memiliki bentuk yang cukup tinggi dan miring, platform-nya setinggi 24 inci. Awalnya dirancang untuk mencegah lumpur pada sepatu wanita dengan bahan yang mudah ternoda seperti kulit binatang atau satin.
Baca juga: Berawal dari Coba-Coba, Martin Cooper Ciptakan Ponsel Seluler
Chopin sendiri bukan ide dari Eropa, melainkan orang Jepang yang memilikinya selama berabad-abad agar kimono mahal tidak kotor menyentuh tanah. Sepatu tersebut terbuat dari papan kayu dengan dua lainnya yang berada di bawah untuk menahan pemakainya dari tanah, tingginya mencapai 18 cm.
Gagasan mengenai sepatu hak tinggi semakin berkembang dikalangan wanita. Ketika Catherine de Medici menikahi Duke of Orleans pada 1533, pengantin wanita berusia 14 tahun tersebut mengenakan sepatu hak tinggi menjadi lebih khas dan menjadi bagian dari tren mode yang lebih terkini.
Pada era Victoria, sepatu hak tinggi mengalami kejatuhan yang cukup serius setelah Revolusi Prancis. Orang-orang tidak menginginkan penampilannya seperti bangsawan, bahkan ada seseorang yang melarang pemakaian sepatu hak tinggi, karena seperti penggoda.