SAN DIEGO - Planarian air tawar dapat ditemukan di seluruh dunia dan umumnya dikenal sebagai cacing pipih serta terkenal dengan kemampuan regeneratif mereka. Melalui proses yang disebut fisi, planarian dapat bereproduksi secara aseksual dengan membagi diri menjadi 2 bagian dan menghasilkan cacing baru dalam waktu sekira 1 minggu.
Dilansir dari Phys, Rabu (27/9/2017), kapan, di mana, dan bagaimana proses tersebut menjadi teka-teki selama berabad-abad karena sulitnya mempelajari fisi. Namun, tim ilmuwan University of California San Diego berhasil memberikan penjelasan biomekanik baru dalam Prosiding National Academy of Sciences (PNAS).
Planarian sangat sulit untuk dipelajari, karena mereka tidak suka diawasi selama proses fisi. Fisi sendiri tidak terjadi dalam frekuensi yang dekat, sehingga rekaman video harus terus-menerus merekam apapun yang planaria lakukan sampai fisi dimulai.
Untuk memahami di mana dan bagaimana fisi terjadi pada spesies planarian Dugesia japonica, para peneliti menggunakan rekaman time-lapse, pengukuran traksi yang sensitif, analisis statistik dari ratusan divisi dan pemodelan matematis. Eva Maria Collins, seorang profesor di Departemen Fisika dan Bagian Biologi Sel serta Perkembangan dan rekan-rekannya dapat memprediksi di mana fisi planar terjadi berdasarkan anatominya.
Mereka juga dapat menjelaskan bagaimana proses fisi terjadi dengan menggunakan model mekanis yang relatif sederhana. “Faktanya, studi terakhir tentang pembelahan sampai pada kesimpulan bahwa di mana fisi terjadi tidak dapat diprediksi. Hasil kami, menunjukkan bahwa hal itu dapat diprediksi, oleh karena itu benar-benar mengubah cara kita berpikir tentang pembelahan,” ungkap Collins.