Ini diklasifikasikan dan dibedakan antara otak yang sehat dan berpenyakit dengan akurasi 86%. Sementara subyek yang didiagnosis serta diobservasi dengan MCI akurasinya 84%.
Dalam kasus ini, deteksi MCI menunjukkan bahwa AI dapat mengidentifikasi perubahan otak kecil yang menyebabkan Alzheimer hampir satu dekade sebelum munculnya gejala klinis.
Diketahui Alzheimer tak memiliki penyembuhan yang nyata, namun ada beberapa obat yang bisa menurunkan perkembangan kondisi dan pengaruhnya. Perawatan akan bekerja lebih baik jika dimulai lebih awal, sebuah faktor yang telah mendorong beberapa peneliti di seluruh dunia untuk merancang teknik baru dalam mendiagnosis penyakit sedini mungkin.
Teknik seperti analisis cairan serebrospinal dan pencitraan otak secara akurat dapat memprediksi perkembangan awal Alzheimer sebelum 10 tahun. Namun metode ini sangat invasif dan mahal.
Disinilah peran kecerdasan buatan berperan. Algoritma machine learning saat ini didasarkan pada seperangkat data kecil, namun saat diberi lebih banyak data, alat ini dapat dikembangkan menjadi alat non-invasif lengkap untuk deteksi dini Alzheimer. Demikian seperti dilansir IB Times, Selasa (19/9/2017). (lnm).
(Kemas Irawan Nurrachman)