JAKARTA – Teleskop merupakan salah satu penemuan terpenting manusia, Perangkat sederhana ini mampu membuat hal yang jauh menjadi tampak dekat. Namun siapakah yang menciptakan perangkat ini?
Perancang teleskop memang masih menjadi misteri. Kemungkinan besar karena teknik pembuatan kaca dan pengembangan lensa meningkat pada akhir 1500-an, seseorang mengembangkan dua lensa dan menemukan apa yang bisa mereka kembangkan.
Orang pertama yang mengajukan paten untuk teleskop adalah seorang pembuat kacamata Belanda bernama Hans Lippershey. Pada 1608, Lippershey mencoba mengajukan paten untuk perangkat yang mampu memperbesar benda hingga tiga kali.
Teleskopnya memiliki lensa mata cekung yang sejajar dengan lensa objektif cembung. Ia kemudian mendapat ide untuk desain perangkatnya setelah dua anak di tokonya mengangkat dua lensa yang membuat baling-baling cuaca yang jauh menjadi tampak dekat. Namun, desain lainnya dituntut karena diduga mencuri desain pembuat kacamata lain, Zacharias Jansen.
Jansen dan Lippershey tinggal di kota yang sama dan keduanya bekerja membuat instrumen optik.
Para cendekiawan umumnya berpendapat bahwa tidak ada bukti nyata bahwa Lippershey tidak mengembangkan teleskopnya secara independen. Oleh karena itu, Lippershey mendapatkan kredit untuk teleskop, karena aplikasi paten, sementara Jansen dikreditkan dengan penemuan mikroskop majemuk. Keduanya telah berkontribusi terhadap pengembangan kedua instrumen tersebut.
Orang Belanda lain, Jacob Metius, mengajukan permohonan paten untuk teleskop beberapa minggu setelah Lippershey. Pemerintah Belanda akhirnya menolak kedua aplikasi tersebut karena adanya tuduhan balasan.
Selain itu pejabat menyebutkan perangkat itu mudah direproduksi, sehingga sulit dipatenkan. Pada akhirnya, Metius mendapat hadiah kecil dan pemerintah membayar Lippershey biaya yang cukup untuk membuat salinan teleskopnya.
Pada 1609, Galileo Galilei mendengar tentang ‘kacamata perspektif Belanda’ dan dalam beberapa hari telah merancang salah satu miliknya. Dia membuat beberapa perbaikan pada desain awal dan mempresentasikan perangkatnya ke Senat Venesia.
Galileo adalah orang pertama yang mengarahkan teleskop ke angkasa. Dia bisa melihat pegunungan dan kawah di bulan, juga pita cahaya yang menyebar dan melintang di langit atau Bima Sakti. Galileo juga menemukan bahwa matahari memiliki bintik dan Jupiter memiliki bulan-bulannya sendiri.
Etnografer Inggris dan matematikawan Thomas Harriot juga menggunakan spyglass untuk mengamati bulan. Harriot terkenal karena perjalanannya ke pemukiman awal di Virginia untuk mengamati sumber daya di sana. Agustus 1609, gambar bulan mendahului Galileo namun tak pernah diterbitkan.
Semakin dia mengamati, semakin Galileo yakin akan model Planet Copernicus yang terpusat pada matahari.
Galileo menulis sebuah buku ‘Dialog mengenai Dua Kepala Sistem Dunia, Ptolemaic, dan Copernicus’ dan mempersembahkannya untuk Paus Urban VIII. Namun gagasannya dianggap sesat dan Galileo dipanggil untuk tampil di hadapan Inkuisisi di Roma pada 1633. Dia mengajukan sebuah tuntutan dan dijatuhi hukuman tahanan rumah di mana dia terus bekerja dan menulis hingga ia meninggal pada 1642.
Di tempat lain di Eropa, para ilmuwan mulai memperbaiki teleskop tersebut. Johannes Kepler mempelajari optik dan merancang sebuah teleskop dengan dua lensa cembung, yang membuat gambar tampak terbalik. Terinspirasi dari tulisan-tulisan Kepler, Isaac Newton beralasan bahwa lebih baik membuat teleskop dari cermin dibanding lensa dan membangun teleskop pemantulnya yang terkenal pada 1668. Berabad-abad kemudian, teleskop refleksi tersebut mendominasi astronomi. Demikian seperti dilansir Space, Senin (7/8/2017).
(Kemas Irawan Nurrachman)