JAKARTA – Internet of Things (IoT) banyak digemari oleh berbagai belahan dunia. Teknologi ini memungkinkan kemampuan internet yang terhubung satu sama lain bahkan dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Menariknya, kini teknologi memungkinkan IoT dibawah laut. Hal inilah yang dikatakan oleh organisasi teknologi dan sains NATO [Center] for Maritime Research and Experimentation (CMRE), dalam penelitian barunya yang dirancang utuk menetapkan standar komunikasi bawah laut digital pertama di dunia.
Disebut dengan Janus, alternatif digital baru telah digunakan oleh semua sekutu NATO sejak awal tahun ini dan merupakan yang pertama kalinya sebuah protokol komunikasi digital bawah laut yang telah didirikan di tingkat global. Mengingat bahwa lebih dari 70% dunia ditutupi oleh air.
Di permukaan, gagasan stadar komunikasi bawah laut mungkin terdengar tak begitu penting. Manusia juga telah terbiasa dengan perangkat pintar di lahan yang kering, namun komunikasi bawah air juga rupanya dibutuhkan.
Misalnya komunikasi bawah air akan memungkinkan terciptanya jaringan bawah air yang akan membiarkan robot bawah laut bekerja sama secara mandiri dan melaporkan temuannya. Selain itu, teknologi tersebut juga bisa digunakan untuk berbagai hal seperti mendeteksi kebocoran air dari rig minyak dan perlindungan pelabuhan hingga pendeteksian dan arkeologi bawah laut.
“Robot dapat berprilaku cerdas, dan bertindak sebagai tim,” kata Joao Alves, Principal Scientist and Project Leader di CMRE, dalam sebuah pernyataan. “Misalnya salah satu robot bisa menemukan beberapa fitur menarik dan menghubungi anggota tim lainnya.”
Janus akan beroperasi dengan menentukan frekuensi umum 15,5 kilohertz, yang berkatnya perangkat di bawah air dapat berkomunikasi. Begitu mereka terhubung, mereka kemudian memiliki opsi untuk beralih ke frekuensi atau protokol lain untuk memaksimalkan kemampuan komunikasi bawah air mereka.
Janus terbilang cukup maju di masanya, karena manusia masih memimpikan setiap perangkat terhubung di darat dan berbicara dengan bahasa yang sama. Namun teknologi ini masih dalam penelitian sehingga perlu mengikuti perkembangan yang dihasilkan. Demikian seperti dilansir Digital Trends, Jumat (14/7/2017).
(Kemas Irawan Nurrachman)