"Bagi kami ini seperti mimpi. Enggak pernah terpikirkan untuk menjadi juara kedua, apalagi sampai ke London. Alhamdulillah, kerja keras kami semua terbayar lunas. Yang pasti ini belum selesai, kami harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk di London," ujar Ivan Fadil, Manajer Tim Bengawan 2.
Hal serupa diungkapkan Tim ITS 2. "Kemenangan ini adalah kebanggaan yang membayar seluruh kerja keras satu Tim ITS 2. Kami sudah pernah tahun lalu di DCW Global di London dan adalah berkah juga untuk kami di tahun ini kembali ke sana. Sekarang saatnya kami mempersiapkan diri sebaik-baiknya," ujar Annas Fauzy, Manajer Tim ITS 2.
Di sisi lain, ada juga tim mahasiswa yang tidak mendapatkan hasil positif, salah satunya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. Di mana runner-up tahun lalu itu harus puas berada di urutan 10. Padahal, mobil itu pernah dibawa ke markas Ferrari di Maranello, Italia untuk uji jalan. Dari situ, timnya mendapat banyak masukan, sehingga ketika sampai di Indonesia mobil langsung dirombak dan dibangun ulang.
Sementara itu, pada kategori prototipe, Indonesia hanya bisa menempati urutan keempat, yakni Tim Nakoela dari Universitas Indonesia (UI) dengan catatan 919 km/liter dalam lima kali percobaan. (san)
(Dian AF)