Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IWAK, Startup yang Lahir dari Kegalauan

Agregasi Kedaulatan Rakyat , Jurnalis-Selasa, 09 Agustus 2016 |12:13 WIB
IWAK, <i>Startup</i> yang Lahir dari Kegalauan
KR Jogja
A
A
A

Dahulu, untuk mencari investor, tim IWAK sering ditolak. Saat ini ada puluhan orang yang rela antri di daftar tunggu untuk menjadi investor.

IWAK merupakan startup atau perusahaan rintisan digital yang tengah naik daun. Mereka melakukan pemberdayaan masyarakat melalui budidaya ikan lele. Sederhananya, startup yang didirikan lima mahasiswa asal Umiversitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini menyediakan platform yang menghubungkan investor dengan keluarga pembudidaya ikan.

Dua orang founder IWAK, Rushan Faizal dan Hestyriani Anisa bercerita, setelah diluncurkan resmi pada akhir tahun 2015, setidaknya sudah ada  279 investor yang bergabung, 68 kolam telah terpasang dan 15 keluarga mulai hidup sejahtera.

"Minimal saya bisa melihat mereka makan tiga kali sehari dan bisa menyekolahkan anak-anaknya," kata Rushan, seperti dikutip dari KRjogja, Selasa (9/8/2016).

Bukan itu saja, saat ini IWAK untuk sementara menerapkan sistem waiting list bagi orang-orang yang ingin menjadi investor.

"Ada sekira 50 orang yang masuk daftar tunggu. Sementara ini kami memang tengah melakukan pengembangan sistem dan manajemen," ujar Rushan Faizal.

Kesuksesan IWAK bukan datang sekejap. Rushan tersenyum sambil menerawang, mengingat-ingat awal mula melahirkan startup ini bermula dari kegalauan. Awalnya, pemuda asal Nganjuk, Jawa Timur ini tengah pulang kampung.

Ia tengah bermain di rumah pamannya. Melihat banyak lahan kosong yang tidak dimanfaatkan membuat ia gelisah. Pikirannya pun melebar kemana-mana, ia ingat, di desanya, selain dirinya hanya ada tiga orang yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

Ada lahan sangat luas yang tidak banyak dimanfaatkan, sementara di sisi lain kesejahteraan masyarakat sekitar bisa dibilang kurang. Rushan kemudian berfikir apa yang bisa ia lakukan. Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang rekan yang membudidayakan ikan. Akhirnya Rushan, memutuskan untuk membuat usaha rintisan berupa kolam portable ikan lele.

"Ikan lele dipilih karena mudah perawatannya dan cepat panenannya," tuturnya.

Rushan, yang merupakan mahasiswa Ilmu Komputer UGM ini berfikir, antara rencana yang akan ia lakukan dengan kemampuan yang ia miliki yaitu di bidang komputer. Selain itu, ia ingin usaha yang ia lakukan bukan sekadar bisnis, namun memiliki manfaat untuk orang-orang yang membutuhkan.

Iapun berkolaborasi dengan rekan-rekannya untuk menerapkan teknologi dalam budidaya ikan lele portable. Diantaranya dengan memanfaatkan sensor yang bisa mengukur suhu kolam, Ph, bahkan pemberian pakan otomatis.

Setelah ujicoba sekira enam bulan atau dua kali panen, Rushan bersama rekan-rekannya mulai percaya  diri untuk mencari investor. Saat itu konsep yang ditawarkan sharing economy, menghubungkan orang yang punya lahan dengan investor.

Bukan perkara mudah mencari investor, terlebih mereka adalah anak-anak muda yang sebagian besar statusnya masih mahasiswa.  

Anisa menjelaskan, banyak sekali penolakan yang mereka dapatkan. Merekapun memulai dari keluarga terlebih dulu. Terkumpulah modal awal Rp 30 juta. Komitmen yang mereka berikan kepada investor adalah transparansi.

Bahkan, setiap hari mereka rajin mengirim pesan singkat, mulai dari jam memberi makan, kondisi ikan, habis berapa dan lain-lainnya. Semua anggota tim yang berjumlah lima orang juga membuat kolam, sehingga mereka juga menjadi investor.

Mereka juga menawarkan bisnis tersebut ke rekan-rekannya. Minimal setiap anggota tim memprospek lima anggota temannya untuk berinvestasi. Sampai teman-teman mereka di media sosial seperti facebook ataupun line habis, hasilnya belum memuaskan.

Mereka kemudian melakukan promosi mencari investor dengan cara door to door. Tanggapan selama mencari investor pun macam-macam. Ada yang hanya memuji namun juga ada yang curiga. Dari pengalaman-pengalaman tersebut akhirnya mereka bisa memilah investor yang potensial.

"Investor IWAK rata-rata adalah anak muda yang baru mulai kerja dan ingin investasi. Mereka tertarik karena dana minimal investasi hanya Rp150 ribu. Banyak yang tertarik juga karena visi misi IWAK bukan semata mencari uang, tapi ada keluarga yang harus dibantu," kata Anisa yang baru menyelesaikan pendidikan di Sastra Jepang UGM.

Sistem bisnis di IWAK, adalah bagi hasil antara investor, petani dan IWAK sebagai pengelola. Prosentasenya bagi hasil keuntungan 50 persen untuk petani, investor 40 persen dan IWAK 10 persen.

Resmi membuat apps Desember 2015. Rushan dan Anisa mengatakan, dari awal proyek mereka memang dikonsep menjadi sebuah startup. Namun, mereka tidak ingin terburu-buru mengeluarkan apps-nya.

"Kami berfikir kalau langsung online bisa langsung boom, sementara tenaga di lapangan belum siap," kata Anisa.

Sampai bulan Juli, total investasi yang terkumpul dari investor mencapai Rp 900 juta.

"Akhir tahun kami menargetkan bisa membangun 100 kolam dan mengelola dana dari investor senilai Rp1,5 miliar. Ke depan, tidak menutup kemungkinan IWAK akan mengembangkan diri untuk budidaya ikan jenis lain, bukan hanya lele,” paparnya.

Beberapa penghargaanpun berhasil diraih oleh IWAK, diantaranya Second Runner Up ASEAN Young Sociopreneur, Finalis Wirausaha Mandiri Regional, Nominator  Indonesia ICT Award (Inaicta) dari Kemenkominfo, serta diundang dalam Asean Sociopreneur Conference.

(Fransiskus Dasa Saputra)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement