Ditegaskannya, para pengguna Spin maupun merek kendaraan lain merupakan ujung tombak yang bisa membuat nilai jual kembali sebuah produk terjaga. Saat gonjang-ganjing penghentian produksi ini ramai, kata Ian, harga mobil Spin bekas sempat jatuh.
Namun setelah itu bisa kembali normal karena banyak pengguna Spin yang tetap mempertahankan kepemilikan. Dari situ muncul kepercayaan publik bahwa tidak ada masalah dengan Spin, meski kendaraan ini sudah tidak diproduksi secara lokal lagi.
“Karena sebagai user atau pemakai, kami punya tanggung jawab menjaga resale value. Yang bisa menjaga hanya user. APM (agen pemegang merek) tidak akan bisa mengatur nilai harga mobil bekas. Jadi kami mencoba menjelaskan kepada mereka kondisinya seperti apa. Jadi tidak perlu takut,” pungkas dia.
(Dian AF)