Awan-awan yang terbentuk dari uap air, mengembun di sekitar kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan air di awan sangat kecil yakni dengan diameter antara 0,01 dan 0,02 mm, awan menggantung di udara dan tersebar di langit. Oleh karena itu, langit ditutupi awan. Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal garam dan partikel debu menebal dan bentuk tetesan air hujan, sehingga tetesan tersebut lebih berat dari udara dengan meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai air hujan.
Detail mengenai proses terjadinya air hujan di awan sendiri dapat dilihat dalam surat An-Nur ayat 43 yang berbunyi;
"Tidak kah kamu melihat bahwa Allah menggerakkan awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan."
(Kemas Irawan Nurrachman)