Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hacker Curi Ratusan Juta Informasi Pribadi Milik Pengguna

Arsan Mailanto , Jurnalis-Selasa, 19 April 2016 |19:50 WIB
<i>Hacker</i> Curi Ratusan Juta Informasi Pribadi Milik Pengguna
(Foto: Arsan Mailanto/Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Symantec Corporation, mencatat lebih dari setengah miliar atau sekira 500 juta data informasi pribadi dicuri atau hilang pada 2015. Pencurian informasi ini bisa memberikan dampak bagi perusahaan.

Bahkan perusahaan yang berkecimpung dalam keamanan cyber itu menyatakan, rata-rata perusahaan besar di seluruh dunia termasuk Indonesia, kini menjadi target bidikan yang ditargetkan tiga kali lipat dalam setahun ini.

"Tahun lalu kami melihat pelanggaran data terbesar yang pernah dilaporkan kepada publik. Tercatat 191 juta kasus pencurian data itu disusupi dalam satu kejadian tunggal," ujar Halim Santoso, Director Systems Engineering ASEAN di Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Bahkan rekornya sembilan pelanggaran besar yang dilaporkan. Ketika itu 429 juta identitas telah terekpos, tetapi rata-rata sejumlah perusahaan memilih untuk tidak melaporkan jumlah data yang hilang melonjak 85 persen.

"Perkiraan konservatif Symantec sendiri, dari pelanggaran itu mereka ada yang tidak dilaporkan. Sehingga meningkatkan jumlah sebenarnya dari data yang hilang jadi lebih dari setengah miliar," ungkap Santoso.

Belum lagi, lanjut dia sekarang ini meningkatnya jumlah perusahaan yang memilih untuk menahan rincian penting mereka. Setelah terjadi pelanggaran dan tentu ini adalah tren yang sangat meresahkan.

"Transparansi itu sangat penting untuk keamanan. Namun bila mereka menyembunyikan dampak dari serangan peretas, maka jauh lebih sulit untuk menilai risiko dan meningkatkan keamanan untuk mencegah serangan di masa depan," tambah Santoso.

Sementara, kini orang-orang semakin sering menjalani kehidupan secara online, melalui perangkat smartphone, laptop, PC dan perangkat lainnnya. Maka para peretas semakin difokuskan pada dunia fisik dan digital untuk meraup keuntungan mereka.

"Kami melihat kebangkitan banyak, melalui penipuan tried-and-true, hacktivis (peretas) kembali melakukan penipuan dukungan teknis palsu dengan cara scammer mengirim pesan-pesan peringatan palsu ke perangkat seperti smartphone. Indonesia menempati urutan ke-13 di wilayah dalam hal serangan hacker dengan rata-rata 14 serangan per hari pada 2015," pungkasnya.

(Ahmad Luthfi)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement