JAKARTA — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyebut YouTube, Instagram, Threads sebagai platform digital berisiko tinggi bagi anak-anak. Ia menegaskan, penilaian ini menjadi dasar pemerintah untuk membatasi akses anak terhadap platform digital yang dinilai belum aman.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah menggunakan pendekatan berbasis risiko (risk-based approach) untuk menentukan platform digital yang tidak boleh diakses oleh anak-anak.
“Platform YouTube kita anggap berisiko tinggi, berarti tidak boleh untuk anak-anak,” kata Meutya dalam diskusi publik bertajuk “Darurat Perundungan di Sekolah” yang digelar Kosgoro 1957 di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).
Lebih jauh, Meutya menjelaskan bahwa penilaian tersebut dilakukan berdasarkan tujuh kategori risiko, mulai dari konten yang tidak sesuai usia, kontak dengan orang asing, hingga keamanan data anak.
Meutya menuturkan, pendekatan Indonesia berbeda dengan Australia yang secara langsung melarang sejumlah platform media sosial bagi anak. Pemerintah Indonesia memilih menilai tingkat risiko setiap platform sebagai dasar penentuan pembatasan.
“Platform seluruh grup Meta, Instagram, Threads, apalagi itu juga kita anggap risiko tinggi, maka tidak boleh untuk anak-anak,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah tidak menutup kemungkinan platform-platform tersebut dapat kembali diakses anak-anak apabila pengembang melakukan perubahan untuk meningkatkan keamanan layanannya.
“Ini artinya memberi ruang. Kalau platformnya mau berubah menjadi platform yang ramah anak, maka tingkat risikonya bisa kita turunkan dan dapat diakses anak-anak kita,” kata Meutya.
Menurutnya, pemerintah ingin mendorong pengelola platform digital mengurangi risiko agar layanan mereka lebih aman bagi anak. Kebijakan ini juga berkaitan dengan besarnya pasar digital anak di Indonesia yang menjadi potensi bisnis bagi perusahaan teknologi.