JAKARTA – Indonesia memiliki cadangan nikel melimpah, yang merupakan salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik. Tapi, untuk mengangkut nikel dibutuhkan truk dengan standarisasi khusus agar material yang dibawa dalam kondisi bagus dan truk tetap awet.
Sekadar informasi, Nikel adalah logam berwarna putih keperak–perakan dengan sedikit semburat keemasan. Nikel termasuk logam transisi, dan memiliki sifat keras serta ulet, yang tergolong dalam grup logam besi-kobalt.
General Manager PT Motor Sights Internasional, Mohammad Rosyid Setiadi mengatakan bahwa di pertambangan nikel ada sifat korosif yang tinggi. Untuk itu, material yang digunakan pada truk harus tahan lama terhadap korosif atau tidak mudah keropos.
“Tambang nikel tahu sendiri, (banyak) batu dan korosif, banyak tanah, medannya juga cukup berat dibandingkan dengan tambang batu bara. Secara berat juga, batu bara tidak seberat nikel, karena nikel itu kan campur dengan batu,” kata Rosyid di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Rabu (13/9/2023).
Secara spesifikasi, Rosyid mengatakan secara keseluruhan sama dengan dump truk lainnya, hanya saja perbedaannya ada pada materialnya. Motor Sights sendiri memasarkan F3000 dan X3000 yang digunakan pada sebagian besar tambang nikel dan batu bara di Indonesia.
“Sebetulnya spesifikasi sama dengan yang lain. Tapi, hubungan kami dengan kontraktor cukup baik, jadi kontraktor lain juga melihat. Kalau melihat di Morowali dan Halmahera, sudah 80 persen menggunakan produk kami,” ujar Rosyid.