Lebih lanjut Space Explored mengatakan perubahan iklim yang terjadi saat ini didorong oleh peningkatan gas rumah kaca di atmosfer Bumi. Kondisi itu membuat panas terperangkap yang mengakibatkan pemanasan berlebihan.
Pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas alam, untuk energi, juga merupakan salah satu sumber emisi karbon dioksida terbesar.
"Padahal, pembakaran bensin dan solar pada mobil, truk, pesawat terbang, dan kapal besar masih mendominasi sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbanyak," sebut mereka.
Perlu juga dicatat bahwa deforestasi dan perubahan penggunaan lahan juga melepaskan CO2 dalam jumlah yang signifikan ke atmosfer.
Emisi itu menyebabkan perubahan iklim sehingga tidak heran jika Juli 2023 adalah bulan terpanas dalam sejarah.
"Rekor panas pada Juli 2023 justru jadi peringatan nyata bagi planet yang membutuhkan tindakan segera dari pemerintah dan individu," tegas Space Explored.
(Saliki Dwi Saputra )