JAKARTA - Krisis iklim karena ulah manusia punya dampak yang luas, kini disebut tanaman semakin banyak dimakan oleh serangga meskipun populasinya sedang mengalami penurunan.
Menurut penelitian terbaru, akibat dari fenomena ini, sekitar seperempat lebih tanaman menjadi rusak dibandingkan spesimen yang dikumpulkan lebih dari satu abad yang lalu. Sehingga, pembakaran bahan bakar fosil, urbanisasi, dan spesies invasif memperburuk kondisi.
Dilansir dari Metro, Rabu (12/10/2022), temuan ini berdasarkan analisis pada daun yang berusia 67 juta tahun, sebelum dampak asteroid yang memusnahkan dinosaurus.
Hal ini, dinilai memiliki implikasi untuk memberi makan dunia, mengingat populasi global akan mencapai hampir 10 miliar pada tahun 2050.
“Tanaman di era modern mengalami tingkat kerusakan oleh serangga yang belum pernah terjadi sebelumnya, meskipun ada penurunan populasi serangga,” ungkap Dr Lauren Azevedo-Schmidt, penulis utama penelitian ini.
Ada peningkatan yang mencolok pada tanaman lainnya, yang dikumpulkan dari tiga hutan modern dibandingkan dengan catatan fosil.
Studi pertama membuktikan, setiap derajat pemanasan global akan meningkatkan hilangnya buah-buahan, sayuran, dan sereal hingga 25 persen.
Selain itu, selera serangga melonjak ketika suhu naik. Kekeringan atau banjir yang berkepanjangan akan memperburuk masalah.
“Pekerjaan kami menjembatani kesenjangan antara mereka yang menggunakan fosil untuk mempelajari interaksi tanaman dan serangga dari waktu ke waktu dan mereka yang mempelajari interaksi semacam itu dalam konteks modern dengan bahan daun segar,” kata Schmidt.
Ia juga menjelaskan, perbedaan kerusakan serangga antara era modern dan catatan fosil sangat mencolok.