Pada non-manusia, para peneliti menyebut indra ini 'nosisepsi', ia mendeteksi rangsangan yang berpotensi berbahaya seperti panas, dingin, atau cedera fisik, tetapi serangga bisa merasakan sakit saat mengalami rangsangan itu.
“Jadi kami tahu bahwa serangga dapat merasakan sakit. Namun, yang tidak kami ketahui adalah bahwa cedera dapat menyebabkan hipersensitivitas jangka panjang terhadap rangsangan yang biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dengan cara yang mirip dengan pengalaman pasien manusia, ungkap dia.
Dalam penelitiannya, mereka merusak satu kaki pada lalat buah dan kemudian membiarkannya sembuh total. Mereka menemukan, setelah lalat buah pulih, kaki mereka yang tidak terluka menjadi lebih sensitif, reaksi yang disamakan dengan rasa sakit kronis pada manusia.
“Setelah hewan itu terluka parah, mereka menjadi hipersensitif dan mencoba melindungi diri mereka sendiri selama sisa hidup mereka. Itu agak keren dan intuitif,” ujar Neely.
(Ahmad Muhajir)