Menurut Sullivan, tombol sunting ini merupakan fitur yang paling banyak diminta pengguna selama bertahun-tahun agar mereka bisa membetulkan salah ketik atau yang lainnya.
Twitter menilai tombol ini bisa saja disalahgunakan untuk mengubak rekam jejak.
"Oleh karena itu, kami membutuhkan waktu dan akan mencari masukan dan pendapat yang bertentangan sebelum meluncurkan (tombol) Edit," ujar @jaysullivan.
Tim Twitter juga membantah mereka mendapatkan ide membuat tombol edit dari jajak pendapat. CEO Tesla, Elon Musk, pada Selasa (5/4) mengadakan jajak pendapat soal tombol edit di Twitter.
Sebanyak 73,6 persen pengguna responden cuitan Musk menjawab "yes".
(Ahmad Muhajir)