“Sungguh menakjubkan bahwa protein yang ditemukan dalam air liur makhluk kecil ini dapat mencegah rasa sakit kronis dan gatal-gatal pada manusia. Ini adalah kondisi yang membawa banyak kesengsaraan, dan pengobatan saat ini menunjukkan kemanjurannya terbatas, dan juga seringkali dapat merugikan pasien,” tambahnya.
Kemungkinan, obat dari protein dalam air liur kutu ini dapat mengobati dermatitis atopik, psoriasis, arthritis, diabetes, linu panggul, dan cedera punggung.
Para peneliti mengatakan, langkah selanjutnya menuju pengujian klinis adalah mengembangkan sistem untuk menghasilkan obat secara efektif berkerja di area yang gatal dan nyeri.
“Nyeri yang persisten atau kronis adalah tantangan kesehatan global yang besar, yang mempengaruhi lebih dari 20 persen populasi,” kata penulis lainnya, Dr. Paul Chazot, dari Universitas Durham.
“Ini adalah satu-satunya alasan terbesar orang-orang di Inggris mengunjungi dokter mereka dan itu diakui sebagai penyakit prioritas oleh WHO," tegas dia.
“The National Institute for Health and Care Excellence (NICE) telah merekomendasikan, obat nyeri opioid dan gabapentinoid saat ini tidak boleh diresepkan untuk pasien yang baru didiagnosis dengan nyeri kronis, selain penderita kanker, jadi ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan obat baru yang efektif dan aman digunakan,” lanjut Chazot.
“Studi kami adalah yang pertama menunjukkan bukti potensi anti-gatal dan penghilang rasa sakit dari Votucalis, yang sangat menarik. Kita bisa berada di ambang menemukan alternatif yang layak untuk obat opioid dan gabapentinoid,” paparnya.
(Ahmad Muhajir)