JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pembentukan sistem bibit siklon 99S di wilayah perairan Nusa Tengga Timur (NTT), bagaimana itu bisa terjadi dan apa dampaknya?
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan, bibit siklon 99S ini terkait dengan pembentukan sirkulasi udara yang dipicu oleh pola tekanan rendah di NTT.
"BMKG melalui Jakarta Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) memonitor adanya peningkatan intensitas sirkulasi udara tersebut menjadi satu sistem bibit siklon tropis 99S yang mulai terbentuk di sekitar Laut Timor sebelah utara Australia," kata Guswanto dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (25/2/2022).
Dia menjelaskan, sistem bibit siklon 99S memiliki tekanan udara minimum di pusatnya mencapai 1001mb dan kecepatan angin maksimum di sekitar pusatnya mencapai 25 knots (46 km/jam).
"Berdasarkan pantauan citra satelit cuaca Himawari-8 kanal IR, terlihat adanya pumpunan awan-awan konvektif yang telah bertahan selama 12 jam terakhir, dari analisis angin per lapisan terpantau pembentukan sirkulasi pada lapisan permukaan hingga menengah," ujar dia.
Guswanto menerangkan, pembentukan pola sirkulasi angin yang meningkat menjadi sistem bibit siklon tersebut, diperkuat dengan adanya faktor konvektifitas udara yang signifikan di wilayah timur Indonesia.
"Sebagai dampak dari aktifnya fenomena gelombang atmosfer, yaitu; MJO (Madden Julian Oscilation), Gelombang Kelvin, serta Gelombang ER (Equatorial Rosbby) di wilayah timur Indonesia," papanya.
Data model prediksi BMKG menunjukkan, pergerakan sistem sirkulasinya menuju ke arah Selatan dan menjauhi wilayah Indonesia.
Potensi sistem 99S untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam periode 24-48 jam kedepan, masih berada dalam kategori menengah dengan potensi peningkatan sirkulasi yang semakin terorganisir untuk periode 72 jam kedepan.
"Suatu kriteria bahwa bibit siklon dapat dikatakan meningkat menjadi siklon tropis adalah apabila kecepatan angin maksimum di sekitar sistemnya mencapai minimal 35 knot (65 km/jam)," tegas dia.
Manurutnya, keberadaan sistem sirkulasi tersebut dapat membentuk daerah pertemuan dan belokan angin di wilayah Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, sebagian Jawa - Bali, NTB, NTT.