Mereka menemukan sebuah cara untuk melapisi protein di silika, proses yang mereka sebut sebagai ensilikasi. Mereka mengatakan cara ini bisa menjaga struktur asli dari sebuah protein apabila dipanaskan hingga 90 derajat Celcius.
Periset utama Dr. Asel Sartbaeva mengatakan mencari solusi cara lain ibarat berusaha mengembalikan telur yang sudah matang ke bentuk semula.
Sartbaeva menjelaskan, kebanyakan vaksin, terutama vaksin anak mengandung protein yang merupakan rantai asam amino.
“Dan, rantai itu memiliki bentuk tertentu, jadi masing-masing protein akan memiliki bentuk unik sendiri. Bentuknya sangat penting bagi protein karena, misalnya, apabila ada sisi yang aktif, bisanya dilindungi dengan rantai asam amino di dalamnya, begitu proteinnya mulai terurai, sisi yang aktif terpapar dan apabila itu terjadi, protein tidak bisa dipulihkan,” paparnya.
Tim Sartbaeva telah mempelajari suntik tetanus yang merupakan bagian dari vaksin DTP (diphtheria, tetanus dan pertussis) yang menurut UNICEF, merupakan vaksin yang paling banyak diberikan kepada anak-anak.
Sartbaeva meyakini apabila vaksin-vaksin Covid-19 dikembangkan di masa depan, bisa menghadapi masalah transportasi dan distribusi yang sama.