Lomba Startup di Kampus UPH Gali Ide Bisnis Berbasis Teknologi

Pernita Hestin Untari, Jurnalis
Selasa 10 Desember 2019 08:25 WIB
Share :

Selanjutnya dalam proses penilaian melibatkan tim juri yang kompeten dari beragam bidang industri, yaitu industri Pendidikan, CEO perusahaan multinasional, alumni yang sudah berhasil, dan internal inkubator.

“Bagi saya seorang yang ingin terjun ke dunia entrepreneurship terlebih dulu harus memiliki purpose hidup dari orang itu. Entrepreneurship tidak bisa dipaksakan tapi panggilan, kemudian juga perseverance. Kemudian dari teknisnya secara sederhana yaitu harus melihat marketnya, di balik sebuah problem selalu ada solusi,” ungkap Ivan Tandyo – CEO Navanti yang menjadi salah satu juri dalam kompetisi ini.

Jadi ketika melihat ada problem berarti juga ada peluang. Barulah dikembangkan menjadi bisnis. Menurut Ivan, para peserta yang ikut kompetisi ini sudah memulai langkah pertama yang benar. Katanya, apa yang UPH lakukan bersama Navanti ini sesuatu yang tidak bisa ditemukan dulu ketika Ivan mulai. Dan ini hal yang sangat baik, tegas Ivan. 

Faktor utama yang menjadi kriteria penilaian juri yaitu bagaimana ide yang dihasilkan mampu menjadi solusi bagi banyak orang. Kriteria lainnya mengikuti standar BMC atau Business Model Canvas. BMC ini mengukur siapa target marketnya, bagaimana kemungkinan revenue stream, sehingga ide ini bisa difokuskan untuk menjadi solusi dan sustainable, bukan fokus pada profitnya.

Kompetisi ini diikuti 31 peserta yang terbagi menjadi 5 kelompok dengan ide bisnis masing-masing. Kelima ide ini mencakup beragam bidang.

“Kelima ide ini sangat bervariasi, ada ide bisnis yang mencoba menjawab persoalan di Pendidikan melalui aplikasi ‘Tutoria’ – aplikasi untuk mempertemukan tutor dan students. Kemudian ide kedua yaitu Market Helper dengan misi memberdayakan pasar tradisional untuk dibantu jadi pasar modern, serta menghubungkan para milenial yang tidak ada waktu dalam memilih bahan makanan yang sesuai keinginan mereka. Ide ketiga yaitu aplikasi lelang untuk Indonesia, karena melihat aplikasi lelang masih belum berkembang. Ide keempat bertujuan untuk membantu petani di daerah terpencil untuk membuat manufacturing product dengan petani sebagai supplier pertama. Terakhir, membuat drone yg dilengkapi teknologi AI yg dapat mendeteksi kandungan pupuk di areal pertanian,” papar Radityo.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya