JAKARTA - Bukan perkara mudah memang mengembangkan mobil nasional seperti cita-cita awal hadirnya Esemka di Indonesia. Pengembangan, penelitian hingga investasi besar menjadi modal yang harus dimiliki Indonesia untuk bisa mewujudkan impian memiliki mobil nasional seperti negara tetangganya Malaysia yang memiliki Proton di masanya.
Namun kini, Esemka tetap menjadi proyeksi yang terus dijalankan sejak pemerintah Presiden SBY hingga Jokowi, meski akhirnya Esemka lahir bukan sebagai mobil nasional yang dikembangkan oleh bangsa Indonesia.
Esemka merupakan mobil yang dirakit PT Solo Manfaktur Kreasi yang kini telah membangun fasilitas pabrik perakitan di Boyolali, Jawa Tengah. Mobil yang diproduksi memanfaatkan komponen dari industri lokal meski beberapa komponen masih harus didatangkan dari beberapa negara.
Berikut perjalanan Esemka di Indonesia:
2008: Menggali kemungkinan untuk mengembangkan mobil Indonesia
2009: Mengembangkan prototipe mobil pertama yang disebut dengan nama Esemka Rajawali (R1)
2010: Mendirikan PT Solo Manufaktur Kreasi-Pemegang Merek Esemka
2011: Mengembangkan prototipe kedua yang disebut dengan nama Esemka Rajawali R2 dan Esemka Bima 1.1
2012: Peluncuran Esemka Rajawali R2 dan Esemka Bima 1.1 oleh Walikota Solo yang pada saat itu dijawab oleh Joko Wiodo (saat ini merupakan Presiden RI)
2013: Mengembangkan prototipe mobil ketiga yang disebut dengan nama Esemka Rajawali R2 MT
2014: Peluncuran Esemka Rajawali R2 MT
2015: Seleksi lokasi dan persiapan pembangunan pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi
2016: Pengembangan pabrik mobil di Boyolali, Jawa Tengah.
2017: Fokus pada pengembangan pabrik, workshop, dan infrastruktur
2018 – sekarang: Persiapan untuk peluncuran produk dan produksi massal Esemka Bima.
(Mufrod)