Belum lagi, lanjut dia sekarang ini meningkatnya jumlah perusahaan yang memilih untuk menahan rincian penting mereka. Setelah terjadi pelanggaran dan tentu ini adalah tren yang sangat meresahkan.
"Transparansi itu sangat penting untuk keamanan. Namun bila mereka menyembunyikan dampak dari serangan peretas, maka jauh lebih sulit untuk menilai risiko dan meningkatkan keamanan untuk mencegah serangan di masa depan," tambah Santoso.
Sementara, kini orang-orang semakin sering menjalani kehidupan secara online, melalui perangkat smartphone, laptop, PC dan perangkat lainnnya. Maka para peretas semakin difokuskan pada dunia fisik dan digital untuk meraup keuntungan mereka.
"Kami melihat kebangkitan banyak, melalui penipuan tried-and-true, hacktivis (peretas) kembali melakukan penipuan dukungan teknis palsu dengan cara scammer mengirim pesan-pesan peringatan palsu ke perangkat seperti smartphone. Indonesia menempati urutan ke-13 di wilayah dalam hal serangan hacker dengan rata-rata 14 serangan per hari pada 2015," pungkasnya.
(Ahmad Luthfi)