JAKARTA - Perusahaan ponsel lokal, Asiafone, yang dahulu dikenal sebagai importir karena banyak mendatangkan barang utuh secara langsung dari China, kini telah membuka pabrik rakitan sendiri di Indonesia untuk menguatkan pasar lokal.
Meski demikian, pihak perusahaan berharap ada bantuan dari Pemerintah Indonesia. Hal itu seperti bisa mengurangi beban pajak yang ditetapkan untuk biaya impor komponen yang didatangkan ke Indonesia.
"Biaya pajak di Indonesia mahal, sehingga ongkos perakitan bisa meningkat," jelas Vice President Director Asiafone Daniel Ng, saat pengenalan lokasi pabrik di Pluit, Jakarta Utara, Rabu (14/1/2015).
Ia mengungkapkan, pembukaan pabrik perakitan ponsel di wilayah Pluit, Jakarta Utara, itu sebagai upaya untuk memindahkan produksi dari luar negeri ke Indonesia secara utuh dan perlahan.
"Biaya pajak yang diterapkan PPh adalah 7,5 persen untuk pajak bea materai per komponen. Sedangkan untuk pajak produk utuh, pemerintah menetapkan PPh sebesar 10 persen," jelas Daniel.
Presiden Direktur Asiafone Herman Zhou menambahkan, dengan berdirinya pabrik ponsel di Indonesia ini bisa mendorong industri komponen nasional menjadi lebih berkembang.
Dirinya juga menyatakan akan mengikuti peraturan atau regulasi yang diterapkan Pemerintah Indonesia. Seperti, penerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 40 persen di setiap produk.
"Kemungkinan kalau untuk TKDN, komponen yang akan digunakan adalah keyboard, bodi ponsel, serta boks pembungkus," tutur Herman.
Saat ini Asiafone masih menggunakan 100 persen komponen impor, namun perakitan tiga tipe yakni AF50, AF90, dan AF9091 dilakukan di Indonesia. Pihak perusahaan juga mengabarkan ada sebanyak 42 tipe smartphone memang sudah beredar di pasaran.
(Amril Amarullah (Okezone))