Sinyal-sinyal ini secara teoritis dapat membantu para astronom untuk menyusun pemahaman yang lebih komprehensif tentang alam semesta, mengingat bahwa berat materi normal di luar sana tidak sesuai dengan apa yang menurut para ahli seharusnya ada.
“FRB itu umum dan punya potensi besar. Kita bisa menggunakannya untuk membuat peta baru struktur alam semesta dan menjawab pertanyaan besar tentang kosmologi,” kata Dr. Stuart Ryder astronom dari Universitas Macquarie, Australia, yang terlibat dalam penelitian ini, sebagaimana dilansir Earth.com.
Dengan menggunakan teknologi canggih dan upaya kolaboratif, para astronom berusaha menguraikan asal-usul dan implikasi ledakan radio cepat ini, yang berpotensi membuka wawasan baru tentang cara kerja mendasar alam semesta kita dan kekuatan yang membentuknya.
Para astronom menggunakan Australian Square Kilometer Array Pathfinder (ASKAP) untuk mendeteksi ledakan tersebut dan melacak asal-usulnya.
"Kami menggunakan antena radio ASKAP untuk menentukan dengan tepat dari mana ledakan itu berasal," kata Dr. Ryder.
Pengungkapan itu tidak berakhir di situ. Tim tersebut juga menemukan galaksi sumber menggunakan Teleskop Sangat Besar milik European Southern Observatory, dan menemukan bahwa galaksi itu lebih tua dan lebih jauh daripada sumber FRB lain yang ditemukan hingga saat ini.
(Rahman Asmardika)