Para peneliti menemukan bahwa conodont tidak mengolah makanan menggunakan mekanisme yang didasarkan pada kekuatan otot, seperti yang dilakukan mamalia.
Sebaliknya, mereka mengandalkan kekuatan sangat kecil yang menjadi sangat terkonsentrasi sebagai akibat dari ketajaman ekstrim gigi mereka, dan cara khusus mereka menggerogoti mangsa mereka.
Tidak seperti gigi mamalia yang menutup secara tegak lurus (atas dan bawah), gigi conodont memutar a90 derajat, mengiris makanan dari kiri ke kanan hingga persinggungan gigi setajam pisau.
Meski tajam, Donogue mengungkap bahwa gigi Conodont mudah patah. Untuk itu Conodont akan mrnggunakan metode pengasahan gigi untuk memperbaiki gigi yang telah tumpul sepanjang hidup mereka.
(Martin Bagya Kertiyasa)