JAKARTA – Saat ingin nyaman bepergian menggunakan bus, tentu saja memilih PO bus adalah hal penting. Selain pertimbangan harga dan layanan, ada pertimbangan lain yang perlu diperhatikan.
Saat ini semakin banyak PO bus berebut penumpang. Mereka bersaing dengan berbagai macam cara, mulai dari perang harga, layanan dan juga fasilitas yang diberikan.
Namun, persaingan bukan hanya ada pada tingkat perusahaan. Sampai di sini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, jika persaingan itu sudah sampai di tingkat sopir, maka persaingan itu akan dibawa ke jalannan.
Persaingan antar sopir kerap diwujudkan dengan adu “ngeblong” atau balap antar sopir. Mereka beradu untuk saling mendahului di jalan raya.
Jika sudah ada di jalan raya, maka “perang” yang terjadi sudah bukan layanan lagi, tapi gengsi antar sopir. Mereka berlomba agar jangan sampai didahului. Berangkat dari sinilah kebut-kebutan di jalan itu terjadi.
Jika dua bus yang sedang berseteru itu berpapasan di jalan, bus tersebut akan saling memprovokasi hingga berujung adu kecepatan. Dikutip dari berbagai sumber, berikut PO bus yang seolah-olah tidak pernah akur di jalan.
1. Luragung VS Primajasa
Siapa yang tidak kenal PO Luragung? Sebelum Tol Cipali dibangun, PO ini merupakan penguasa jalur Pantura, Palimanan dan Cikopo. Bus ini dahulu dikenal dengan aksi ugal-ugalannya, bahkan tidak sedikit armada busnya yang terlibat kecelakaan di jalur pantura.
Namun, setelah adanya tol Cipali, PO Luragung sedikit redup, dikarenakan sebagian besar PO Luragung memilih tol Cipali dibanding lewat pantura. Dahulu, bus luragung bersaing dengan PO Setia Negara yang sudah diakuisisi oleh Hiba Group.
Namun setia negara kurang diminati masyarakat kuningan, sehingga sekarang bus Setia Negara jarang memasuki kuningan. Tapi di tahun 2019 kota kuning kedatangan PO Primajasa dengan tarif yang lebih murah dan menggunakan armada bus baru.