JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus berupaya dalam mempercepat tren elektrifikasi, salah satunya mendorong kerja sama dengan berbagai pihak. Kali ini, Jepang dipercaya dapat membantu mengembangkan kendaraan listrik, termasuk bio-fuel.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektromika (Ilmate), Taufiek Bawazier menggelar dialog bersama beberapa Kementerian, lembaga, asosiasi, dan para stakeholder asing.
“Kerja sama tersebut salah satunya diwujudkan dengan menjalin dialog mengenai kebijakan industri otomotif, khususnya terkait upaya pengurangan emisi,” kata Dirjen Ilmate di Jakarta dalam keterangan resmi.
Sebelumnya, Kemenperin menggelar The 4th Automotive Dialogue Indonesia-Japan di Jakarta. Pada kesempatan tersebut. Taufiek menjelaskan tujuan industri otomotif Indonesia serta strategi dan kebijakan pengembangan kendaraan listrik, termasuk roadmap EV, ekosistem, dan industri baterai di Indonesia.
Taufik menuturkan, Jepang merupakan salah satu industri otomotif terbaik di dunia. Ia percaya bahwa kerja sama dengan Jepang adalah langkah tepat dalam mendukung netral karbon.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sekretariat Menteri Kebijakan Perdagangan (Biro Industri Manufaktur), Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) Jepang Mr. Fujimoto Takeshi mengatakan rencana pemerintah Indonesia sejalan dengan visi Jepang.
“Kebijakan terbaru Jepang untuk Carbon Neutrality (CN) mencakup promosi elektrifikasi, hidrogen, dan bahan bakar netral karbon,” kata Takeshi.
Sedangkan Direktur Kebijakan Perdagangan Internasional Otomotif METI Mr. Hirofumi Oima menyebutkan, saat ini telah terjalin program kerja sama antara Indonesia dan Jepang di bidang kendaraan listrik dan bahan bakar CN, termasuk bio-fuel.
Mr. Enomoto Masato selaku wakil asosiasi manufaktur otomotif Jepang, Chair of Japan Automotive Manufacturers’ Association (JAMA) Asia Experts Group, mengusulkan program kerja sama antara Indonesia dan Jepang.