JAKARTA – Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia masih minim.
Menurut Djoko, SPKLU merupakan infrastruktur penting penunjang kebijakan terkait percepatan kendaraan listrik di Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan infrastruktur akan membuat ekosistem kendaraan listrik akan meningkat.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini juga mengungkapkan, salah satu alasan masyarakat enggan berpindah ke kendaraan listrik adalah karena SPKLU masih jarang ditemui.
Hal tersebut disampaikan Djoko usai touring Jakarta-Bali sejauh 1.250 kilometer yang ditempuh selama empat hari. Selama touring, rombongan hanya berhenti di tujuh lokasi untuk isi ulang baterai kendaraan listrik.
Adapun pemberhentian selama touring adalah Rest Area 207 A Cirebon, Semarang, Solo, Rest Area 626 A Madiun, Surabaya, Jember, dan Bali.
“Disimpulkan untuk saat ini, kendaraan listrik untuk perjalanan jarak jauh masih terkendala. Kendalanya adalah masih terbatasnya penyedian insfrastruktur SPKLU,” kata Djoko dalam keterangan tertulis.
Untuk sementara waktu, kata dia, mobil listrik hanya cocok untuk mobilitas perkotaan. Meski begitu, jumlah SPKLU di perkotaan dan tempat strategis perlu ditambah SPKLU.
Djoko berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait, memperhatikan infrastruktur pendukung kendaraan listrik di seluruh Indonesia.
Ia meminta pemerintah tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti ketika program penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) gagal akibat infrastruktur yang masih minim.