Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tahukah Anda, Bagaimana Cara Peneliti Hitung Umur Benda Purba? Begini Penjelasannya

Angeltika Clara Sinaga , Jurnalis-Jum'at, 18 November 2022 |14:07 WIB
Tahukah Anda, Bagaimana Cara Peneliti Hitung Umur Benda Purba? Begini Penjelasannya
Bagaimana cara peneliti hitung umur benda purba? (Foto: University of Washington)
A
A
A

JAKARTA - Jika kamu pernah mengunjungi museum, biasanya di sana akan ada penjelasan untuk benda-benda zaman dahulu dan tercantum umurnya.

Namun, pernahkah terlintas dalam benak kalian, bagaimana para peneliti bisa tahu umur dari benda-benda purba? Padahal sudah jelas mereka belum lahir pada saat itu dan tidak ada catatan spesifik mengenai umur benda-benda prasejarah tersebut.

Dilansir dari kanal YouTube Kok Bisa?, Jumat (18/11/2022), ternyata umur benda purba dapat dilakukan secara ilmiah dengan menggunakan teknik penanggalan (dating) yang terbagi menjadi dua, yaitu Relative Dating dan Absolute Dating.

Lewat teknik Relative Dating ini, para peneliti bisa membandingkan aneka periode sejarah.

Misalnya, perbedaan prinsip lapisan pada tanah dengan menggunakan ilmu Geologi (Prinsip Superposisi Geologis), kita dapat memperkirakan umur benda purba berdasarkan letaknya di dalam lapisan tanah.

Sedangkan, Absolute Dating merupakan teknik penanggalan dari hasil penggabungan dari arkeologi dan ilmu kimia sehingga kita bisa mengetahui umur benda purba secara lebih spesifik.

Absolute Dating ini memiliki banyak jenis, tetapi yang paling populer adalah Carbon dating (Radiocarbon).

Kira-kira bagaimana cara kerja Radiocarbon? Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini terdiri dari materi yang luar biasa kecil yang disebut atom. Ada satu jenis atom yang pasti dimiliki oleh semua makhluk hidup, yaitu atom karbon.

Atom karbon terdiri dari nomor atom yang sama disebut dengan isotop. Terdapat dua karbon, yaitu karbon-12 dan karbon-14.

Karbon-12 adalah isotop yang paling sering ditemukan di alam, sedangkan karbon-14 tercipta setiap hari ketika sinar kosmik masuk ke atmosfer Bumi kemudian menerjang unsur atom terbanyak di udara, yaitu nitrogen.

Setiap harinya, kedua karbon ini diserap oleh tumbuhan melalui fotosintesis tumbuhan, kemudian dimakan oleh makhluk hidup lainnya, termasuk manusia.

Saat mati hal unik pun terjadi, di mana jumlah karbon-14 dalam tubuh akan mulai berkurang, sementara jumlah karbon-12 tidak berubah.

Hal tersebut dapat terjadi karena karbon-14 bersifat tidak stabil sehingga agar dapat menjadi stabil, karbon-14 harus mengalami peluruhan kembali menjadi atom asalnya. Lantas, bagaimana karbon-14 ini dapat meluruh?

Faktanya, semua atom radioaktif di dunia ini memiliki waktu paruh, yaitu waktu yang membutuhkan atom untuk meluruh menjadi setengahnya.

Waktu paruh karbon-14 adalah 5730 tahun sehingga pada 5730 tahun, jumlah total atom karbon-14 dalam suatu spesimen akan berkurang setengahnya dan akan berkurang lagi setengahnya dalam 5730 tahun berikutnya.

Untuk mengukur jumlah kedua karbon suatu spesimen, peneliti menggunakan alat canggih yang disebut spektrometer massa. Dengan menghitung perbandingan rasio kedua karbon sebuah spesimen dan di alam, tambahkan waktu paruh dalam hitungan. Para peneliti juga mencocokan dengan penunjuk waktu alami supaya lebih tepat.

Kendati demikian, sayangnya carboniting hanya bisa digunakan untuk spesimen makhluk hidup yang mati kurang dari 50.000 tahun.

Kemudian, bagaimana menghitung fosil dinosaurus yang umurnya lebih dari 50.000 tahun? Ternyata, para peneliti menggunakan atom lain yang waktu paruhnya lebih lama. Misalnya, potasium argon yang waktu paruhnya sekitar 1,6 miliar tahun.

(Ahmad Muhajir)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement