Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Roket China Jatuh ke Bumi, Satu Negara Hentikan Lalu Lintas Udara

Tangguh Yudha , Jurnalis-Selasa, 08 November 2022 |13:06 WIB
Roket China Jatuh ke Bumi, Satu Negara Hentikan Lalu Lintas Udara
Roket China jatuh ke Bumi, satu negara hentikan lalu lintas udara (Foto: CNSA)
A
A
A

JAKARTA - Puing-puing roket China jatuh menghantam Bumi, menurut Komando Luar Angkasa AS. Ini merupakan sisa dari peluncuran roket Long March 5B yang beberapa hari lalu mengirim modul besar ke orbit untuk memperluas stasiun luar angkasa Tiangong China.

"Roket Republik Rakyat China Long March 5B #CZ5B memasuki kembali atmosfer di atas Samudra Pasifik tengah-selatan pada pukul 04:01 MDT/10:01 UTC pada 11/4," tulis Komando Luar Angkasa AS di akun Twitternya.

Untuk diketahui, roket Long March 5B sendiri memiliki berat lebih dari 20 metrik ton dan berukuran seperti bangunan 10 lantai. Untuk puingnya sendiri bobotnya mencapai 21 ton. Puing ini pecah saat roket memasuki fase peluncuran pertama roket.

Dilansir dari CNET, Selasa (8/11/2022), tampaknya China tidak memiliki sistem pengontrol untuk membuat puing tidak menghantam Bumi dan menembus atmosfer.

Sebaliknya, setelah bongkahan sisa-sisa roket ini terbakar di atmosfer, justru akan mendarat di suatu tempat secara random entah itu berpenghuni atau tidak.

Hal ini membuat Spanyol menghentikan lalu lintas udaranya selama 40 menit untuk menghindari puing yang jatuh tersebut. Menyebabkan sekitar 300 penerbangan harus ditunda yang secara otomatis juga merugikan banyak orang.

Jonathan McDowell, astronom Harvard dan ahli terkemuka di semua hal orbital, mencatat bahwa puing roket kemungkinan pecah saat melaju di atas Pasifik ke arah Meksiko dan bahwa beberapa mungkin telah sampai ke darat.

Namun, hingga sekarang belum ada laporan adanya puing-puing di lapangan.

"Ketidakpastian di mana puing-puing besar pada akhirnya akan mendarat menghadirkan tingkat risiko terhadap keselamatan manusia dan kerusakan properti yang jauh di atas ambang batas yang diterima secara umum," tulis Aerospace Corporation.

Sebelumnya, puing roket digunakan untuk mengirim Mengtian, bagian ketiga dan terakhir dari Tiangong, ke orbit untuk dipasang pada peluncuran yang berlangsung Senin. Dan ini bukan yang pertama kali, sebelumnya juga pernah terjadi hal serupa.

Sebuah roket bekas mendarat di Samudra Hindia pada 8 Mei 2021, dan satu lagi pecah di Malaysia, Indonesia, dan Filipina pada 30 Juli 2022. Pada 2020, misi Long March 5B juga menyebabkan puing-puing jatuh di wilayah Afrika barat.

Sampah antariksa yang jatuh telah merusak properti, tetapi tidak pernah ada laporan tentang cedera atau kematian manusia. Distribusi populasi Bumi membuat kemungkinan besar sampah apa pun yang jatuh ke Bumi berakhir baik di laut atau di suatu tempat terpencil.

(Ahmad Muhajir)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement