JAKARTA - Seorang astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) berhasil memotret penampakan misterius di sekitar atmosfer Bumi, ia seperti dua gumpalan cahaya berwarna biru. Apa itu sebenarnya?
Dilansir dari Space, Jumat (21/10/2022), sebenarnya gambar itu diambil tahun lalu oleh salah satu anggota Ekspedisi 66 saat ISS melintasi di Laut Cina Selatan. Tetapi, foto tersebut baru dirilis pada 9 Oktober 2022 oleh Earth Observatory NASA.
Gumpalan cahaya pertama terlihat pertama kali ada di Teluk Thailand, ternyata itu adalah sambaran petir. Biasanya, sambaran petir sulit dilihat dari ISS karena tertutup awan.
Alhasil, sambaran cahaya itu pun menerangi area sekitarnya sehingga menciptakan lingkaran cahaya biru yang mencolok.
Sementara itu, terdapat cahaya kedua yang tidak berasal dari daratan. Cahaya yang juga berwarna biru terang berasal dari cahaya yang dibelokkan dari Bulan.
Orientasi Bulan dalam kaitannya dengan ISS membuat cahaya itu dipantulkan kembali dari Matahari, lurus melewati atmosfer Bumi.
Hal tersebut, mengubahnya menjadi gumpalan berwarna biru terang dengan efek halo yang kabur. Efek ini, disebabkan oleh partikel kecil dari cahaya Bulan yang terpancar di atmosfer Bumi.
Warna yang terbentuk ada kaitannya dengan perbedaan gelombang cahaya yang terlihat.
Cahaya biru memiliki panjang gelombang terpendek sehingga memungkinkan untuk menyebar, dan menyebabkan Bulan menjadi biru pada gambar tersebut. Efek yang sama juga menjelaskan alasan di balik warna biru pada langit ketika di siang hari.
Menurut NASA, itu dikarenakan gelombang cahaya biru sinar Matahari menyebar dan menjadi lebih terlihat di mata manusia.
Selain itu, terlihat juga dalam foto tersebut jaring cahaya buatan yang berasal dari Thailand dan cahaya-cahaya lain yang lebih kecil. Mereka berasal dari polusi cahaya di Vietnam dan pulau Hainan, di wilayah paling selatan Cina, tetapi cahayanya tertutup oleh awan.
Menurut Earth Observatory, kedua foto ini diambil pada 30 Oktober 2021. Awak yang mengambil foto ini menggunakan kamera digital Nikon dengan jarak fokus sebesar 28 milimeter.
Dalam gambar juga terlihat lingkaran oranye yang sejajar dengan lengkungan tepi atmosfer Bumi, disebut “Earth’s Limb.”
(Ahmad Muhajir)