Berdasarkan rencana Environmental Research Communications, guna mewujudkan ide tersebut, dibutuhkan sekitar 175 ribu penerbangan per tahun agar mencapai target yang diinginkan.
“Meski ini bisa mengubah Bumi yang memanas dengan cepat, suntikan aerosol stratosfer hanya mengobati gejala perubahan iklim, bukan penyakit yang mendasarinya. Ibaratnya, ini aspirin, bukan penisilin. Jadi, ini bukan pengganti dekarbonisasi,” kata Smith.
Sebenarnya, studi ini dianggap kontroversial oleh beberapa ahli karena jumlah karbon dioksida yang akan dilepaskan ke atmosfer dengan penerbangan yang membawa aerosol mikroskopis terhitung besar, sehingga bisa menimbulkan efek buruk yang tidak terduga di seluruh dunia.
Namun, rencana tersebut didukung oleh Sir David King, mantan kepala ilmuwan pemerintah dan pendiri Centre for Climate Repair (CCR) di Universitas Cambridge. Ia mengatakan bahwa krisis iklim berada pada titik kritis dan membutuhkan metode-metode di luar nalar.
Para ilmuwan memilih wilayah Bumi ini dikarenakan penduduknya yang sedikit, dalam arti hanya satu persen dari populasi manusia yang akan terkena dampak jika terjadi kesalahan dalam rencana penelitian tersebut.
(Ahmad Muhajir)