Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ilmuwan Tegaskan Efek Krisis Iklim Bikin Gelombang Panas Makin Mengerikan

Syifa Fauziah , Jurnalis-Kamis, 21 Juli 2022 |17:10 WIB
Ilmuwan Tegaskan Efek Krisis Iklim Bikin Gelombang Panas Makin Mengerikan
Ilmuwan tegaskan efek krisis iklim bikin gelombang panas makin mengerikan (Foto: Earth)
A
A
A

JAKARTA - Efek krisis iklim membuat cuaca menjadi tidak menentu. Terkadang panas terik dan juga curah hujan yang tinggi. Hal ini tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan.

Cuaca panas ekstrem dialami di sebagian besar benua Amerika Serikat, dengan kubah panas berada di atas Southwest dan Great Plains dan suhu tinggi yang membentang di seluruh Midwest dan naik turun di Pantai Timur.

Bahkan, suhu itu menjadi paling terpanas di London. Saking panasnya hingga terjadi kebakaran hutan di seluruh benua dan lebih dari 1.500 kematian terkait panas di Spanyol dan Portugal.

Dilansir dari ABC News, Kamis (21/7/2022), cuaca panas ekstrem sudah diprediksi oleh para ilmuwan sebelumnya. Mereka menyebut akan ada perubahan cuaca ekstrem di beberapa benua.

Ilmuwan iklim untuk Lamont-Doherty Earth dari Columbia Climate School, Jason Smerdon, mengatakan bahwa krisis iklim yang terjadi di setiap daerah berbeda tergantung kenaikan suhu global

“Setiap gelombang panas itu sendiri berbeda, dan memiliki dinamika tersendiri di belakangnya, kemungkinan peristiwa ini adalah konsekuensi langsung dari pemanasan Bumi," kata Smerdon.

Penyebabnya adalah pecahnya massa udara rendah di Samudra Atlantik bergerak ke timur dan menyelimuti Spanyol dan Portugal, itulah sebabnya negara-negara tersebut mengalami panas terburuk yang berkepanjangan.

Rekor sebelumnya di Inggris terjadi di Cambridge Botanic Gardens dengan suhu cuaca mencapai 38,6 derajat Celcius pada Juli 2019. Pada hari berikutnya, rekor itu dipecahkan ketika suhu diukur mencapai 40 derajat Celcius.

Smerdon menjelaskan, penyebab cuaca ekstrem lainnya adalah karena Kutub Utara memanas lebih cepat daripada bagian planet lainnya, oleh karena itu untuk mengurangi perbedaan suhu antara khatulistiwa dan Kutub Utara dengan menggeser pola atmosfer.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement