Adapun hoaks yang dimaksud adalah dugaan pembocoran dokumen polisi dan membuat komentar palsu yang menghubungkan AIDS dengan vaksin COVID-19.
Sang hakim yang memimpin beberapa penyelidikan terhadap Presiden Bolsonaro dan pengikutnya pun menyalahkan Telegram, sebab tidak kunjung melakukan pemblokiran.
Telegram pun semakin disudutkan, karena aplikasi lainnya seperti WhatsApp, Google dan Twitter telah mengikuti perintah pengadilan untuk menutup akun yang menyebarkan berita bohong.
Juru bicara Google, Frederico Cursino enggan berkomentar terkait permintaan Mahkamah Agung Brazil tersebut. Begitu juga dengan Apple, dan Telegram itu sendiri.
Belum jelas apakah Telegram akan benar-benar diblokir dari Brazil dalam waktu dekat. Hingga saat ini kepastiannya masih menjadi tanda tanya besar.
(Ahmad Muhajir)