METAVERSE, perpaduan teknologi dan reality yang kini ramai dibicarakan rupanya juga memiliki dampak negatif.
Kesiapan mental diperlukan untuk menghadapi era metaverse yang kini sudah di depan mata.

Pada awal Desember 2021, seorang pengguna ujicoba platform Metaverse di Amerika Serikat mengalami pelecehan seksual. Dalam forum resmi Horizon Worlds di Facebook, wanita tersebut mengaku 'diraba' secara virtual.
Dia mengisahkan bahwa aksi meraba secara seksual tak hanya menimpa avatarnya (sebutan untuk karakter di platform metaverse), melainkan pengguna lainnya juga mengalami.
"Pelecehan seksual bukanlah lelucon biasa di internet, namun berada di VR menambah lapisan lain yang membuatnya lebih intens," kata perempuan tersebut, dikutip dari New York Post.
Blogger sekaligus praktisi penidikan, Rita MF Janah mengibaratkan bahwa tekhnologi metaverse ibarat sebuah permainan game, makin lama makin mengalami kemajuan, sehingga terasa seolah-olah nyata.
Menurutnya hal nyata ini yang dikhawatirkan akan lebih parah daripada pembully-an di media sosial.
Apalagi dalam ujicoba platform Metaverse milik Meta beberapa waktu lalu di Amerika Serikat, perempuan korban pelecehan itu disalahkan karena tidak menggunakan 'Safe Zone', fitur keselamatan yang telah tersemat dalam platform.
Meta beralasan fitur ini mampu memblokir pengguna lain yang dirasa asing dan tidak dikenal, sehingga dapat berinteraksi dengan aman.
Baca juga: Perusahaan Teknologi Berlomba-lomba Kembangkan Metaverse
"Dari kejadian di atas, tampak era metaverse dapat memberi sinyal bahwa pembulian akan lebih terasa nyata terjadi. Sehingga diiperlukan kesiapan mental yang lebih kuat dan tingkat tinggi dibanding saat sekarang," ungkapnya.