Skid resistance merupakan daya cengkeram ban dengan permukaan perkerasan jalan. Karena skid resistennya kecil atau bahkan nol, maka apabila mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan mengerem, mobil tidak segera berhenti karena tidak ada daya cengkeram yang memadai antara ban dan permukaan perkerasan jakan.
"Mobil tetap akan meluncur cukup jauh sebelum berhenti. sehingga sering terdengar mobil menabrak truck atau mobil lain yang ada didepannya."
"Perhatikan, jalan beton bukan jalan untuk kecepatan tinggi. Salah membangun jalan tol dengan perkerasan kaku," ujar Gatot.
Kedua, Gatot memaparkan, ditengah jalan tol diberi pembatas dinding beton yang tebal dan kokoh.
"Akibatnya jika ada mobil yang selip atau kemudinya berbelok, maka akan menabrak tembok beton dan karena kecepatannya tinggi, maka akibatnya fatal seperti yg dialami mobil Vanesa Angel," papar Gatot.

Gatot menilai, jalan tol yang aman di tengahnya (mediannya) harus berupa rumput dengan lebar minimum 2 x 5 meter dengan kelandaian 5%. (seperti jalan Tol Jagorawi pada awal dibuatnya).
"Dengan demikian jika ada sopir mengantuk atau mobil pecah ban, mobil tidak menabrak tembok beton, tetapi meluncur diatas rumput yg landai dan akhirnya berhenti dengan selamat," jelas Gatot.
Untuk itu, Gatot menyarankan dan mengingatkan pengguna jalan tol untuk menaati rambu pembatas kecepatan. Jangan bangga dapat menempuh waktu 3.5 dari Semarang ke Surabaya. Tapi banggalah dapat membawa keluarga dengan selamat dari Semarang ke Surabaya walaupun harus ditempuh dalam waktu lebih dari 4.5 jam.
(Kemas Irawan Nurrachman)