Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Belajar dari Kasus Vanessa Angel, Jalan Tol Tidak Aman untuk Kecepatan Tinggi

Kurniawati Hasjanah , Jurnalis-Jum'at, 05 November 2021 |09:52 WIB
Belajar dari Kasus Vanessa Angel, Jalan Tol Tidak Aman untuk Kecepatan Tinggi
Mobil Vanessa Angel Kecelakaan (dok. Istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Artis Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah meninggal dunia kecelakaan tunggal di Tol Jombang-Mojokerto, tepatnya di Kilometer 673+300/A pada Kamis (4/11).

Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Latif Usman memperkirakan, kecepatan mobil sebelum terjadi kecelakaan lebih dari 100 km/jam.

"Jika dilihat dari kondisi kerusakannya, kendaraan tersebut melaju lebih dari 100 km/jam. Tapi dari hasil penyidikan nanti kita akan lihat pergerakan kendaraan. Nanti akan kita ketahui kecepatannya berapa, berapa titik ukur yang ada. Kita tadi hanya memperkirakan dari hasil kerusakan kendaraan di atas 100 km/jam," ujarnya.

Untuk itu, masyarakat perlu belajar dari pentingnya tidak berkendara dalam kecepatan tinggi di jalan tol.

Pemerhati Konstruksi Jalan Raya dan Kereta Api, Gatot Rusbintardjo memberikan tanggapan atas peristiwa tersebut.

"Jalan tol di Indonesia tidak aman untuk kecepatan tinggi," terang Gatot melalui keterangannya pada Jumat (5/11).

 Mobil Vanessa Angel

Baca Juga:

Mengenal Fitur Keselamatan di Mobil Vanessa Angel, Dapat Nilai Sempurna Diuji Tabrak

10 Modifikasi Mobil Terekstrem, dari Mirip Babi hingga Kura-Kura Ninja

Gatot menjelaskan, terdapat dua alasan jalan tol di Indonesia tidak aman untuk kecepatan tinggi. Pertama, terjadinya perkerasan jalan dibuat dari perkerasan kaku yakni beton semua.

"Perkerasan dengan beton semen tidak mempunyai skid resistance atau kecil skid resistance-nya," aku Gatot.

Skid resistance merupakan daya cengkeram ban dengan permukaan perkerasan jalan. Karena skid resistennya kecil atau bahkan nol, maka apabila mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan mengerem, mobil tidak segera berhenti karena tidak ada daya cengkeram yang memadai antara ban dan permukaan perkerasan jakan.

"Mobil tetap akan meluncur cukup jauh sebelum berhenti. sehingga sering terdengar mobil menabrak truck atau mobil lain yang ada didepannya."

"Perhatikan, jalan beton bukan jalan untuk kecepatan tinggi. Salah membangun jalan tol dengan perkerasan kaku," ujar Gatot.

Kedua, Gatot memaparkan, ditengah jalan tol diberi pembatas dinding beton yang tebal dan kokoh.

"Akibatnya jika ada mobil yang selip atau kemudinya berbelok, maka akan menabrak tembok beton dan karena kecepatannya tinggi, maka akibatnya fatal seperti yg dialami mobil Vanesa Angel," papar Gatot.

Vanessa Angel

Gatot menilai, jalan tol yang aman di tengahnya (mediannya) harus berupa rumput dengan lebar minimum 2 x 5 meter dengan kelandaian 5%. (seperti jalan Tol Jagorawi pada awal dibuatnya).

"Dengan demikian jika ada sopir mengantuk atau mobil pecah ban, mobil tidak menabrak tembok beton, tetapi meluncur diatas rumput yg landai dan akhirnya berhenti dengan selamat," jelas Gatot.

Untuk itu, Gatot menyarankan dan mengingatkan pengguna jalan tol untuk menaati rambu pembatas kecepatan. Jangan bangga dapat menempuh waktu 3.5 dari Semarang ke Surabaya. Tapi banggalah dapat membawa keluarga dengan selamat dari Semarang ke Surabaya walaupun harus ditempuh dalam waktu lebih dari 4.5 jam.

(Kemas Irawan Nurrachman)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement