Faktanya, mengacu pada penjelasan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) itu adalah disinformasi.
Menurut peneliti di Pussainsa LAPAN, Andi Pangerang mengatakan video tersebut bukan video gerhana bulan. Melainkan sebuah video simulasi ketika bulan berjarak 10 kali lipat dekat dibandingkan dengan saat ini.
Selain itu, jika video tersebut dikaitkan dengan Gerhana Bulan Total (GBT) yang terjadi 26 Mei lalu juga tidak tepat. Andi menjelaskan bahwa GBT lalu tidak bisa disaksikan di kedua kutub Bumi.
Sementara menurut lama periksafakta.afp, video tersebut tidak benar, klaim yang diberikan salah.
Video tersebut dibuat oleh seniman digital yang berbasis di Ukraina dengan menggunakan pencitraan yang dihasilkan komputer.
(Dyah Ratna Meta Novia)